18 February 2020, 18:12 WIB

Turis Karantina Sukarela demi Menghambat Virus Corona


Fetry Wuryasti | Weekend

Beberapa wisatawan yang sempat berkunjung ke Tiongkok, tepat sebelum merebaknya berita wabah virus corona, memilih untuk mengkarantina diri sendiri, agar memperlambat penyebaran virus.

Hal ini dilakukan oleh Dr Ian Lipkin, salah satu dari ratusan orang di Amerika Serikat (AS), dan ribuan di seluruh dunia yang, meskipun tidak sakit, sukarela mengkarantina diri di rumah.

Dia baru kembali dari Tiongkok minggu lalu. Lalu dia mengkarantina dirinya di ruang bawah tanah. Pada jam-jam tertentu, ia berjalan di Central Park, New York, menjaga jarak 10 meter dari yang lain.

Hal hampir serupa dilakukan Anissa, yang baru pulang dari negeri tetangga, Singapura. Singapura merupakan salah satu negara di luar Tiongkok dan Kapal Diamond Princess, dengan jumlah kasus virus Corona terbanyak.

Menurut Anissa, sepulang dari Singapura, pekan lalu, ia dan keluarganya memilih berdiam di rumah. Jikalau terpaksa pergi ke luar rumah, atau berinteraksi dengan orang lain, ia selalu menggunakan masker. "Tapi biarpun di rumah, saya usahakan terpapar sinar matahari dan udara terbuka supaya virus enggak nempel," ujarnya.

Wisatawan yang mengkarantina diri sendiri sepulang dari Tiongkok, kata para ahli, memainkan peran penting dalam memperlambat penyebaran virus yang sekarang disebut COVID-19.

Sebagian besar kasus dan hampir semua kematian terjadi di Tiongkok daratan. Di banyak negara, seperti Taiwan, pihak berwenang mendesak pelancong untuk setidaknya selama dua minggu karantina di rumah. Atau, menetapkan karantina di tempat tertentu bagi pelancong yang baru kembali dari Tiongkok.

“Kami belum memiliki vaksin dan belum menyetujui obat untuk pencegahan penyakit atau perawatan penyakit. Jadi yang kita miliki hanyalah isolasi,” kata Lipkin, yang memimpin Pusat Infeksi dan Kekebalan Universitas Columbia, AS.

Lipkin diundang oleh otoritas kesehatan Tiongkok untuk membantu menilai risiko yang ditimbulkan oleh COVID-19. Dia melakukan pekerjaan serupa di Tiongkok selama wabah SARS pada tahun 2003.

"Ini adalah kedua kalinya saya melakukan pekerjaan ini," kata Lipkin.

Jumlah warga negara AS yang melakukan karantina diri di rumah terus berubah. Negara bagian New York, misalnya, telah menerima nama lebih dari 350 warga yang baru saja kembali dari daratan Tiongkok. Departemen kesehatan setempat memantau mereka, merekomendasikan karantina bagi mereka yang tidak diketahui terkena virus.

Di Taiwan, pihak berwenang menetapkan denda bagi mereka yang melanggar masa karantina. Tetapi, sejauh ini para pejabat AS mengandalkan rasa tanggung jawab masyarakat. (TIME/M-2)

BERITA TERKAIT