18 February 2020, 14:26 WIB

Petani Jeruk Malang, Maju dan Sejahtera Bersama Koperasi


Heryadi | Ekonomi

Wisata petik jeruk kini menjadi salah satu ikon wisata di Kota Malang selain wisata petik apel yang lebih dulu melegenda. Ratusan petani jeruk di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini dapat mendulang pendapatan dari hasil panen jeruk maupun kehadiran wisatawan.

Di balik keberhasilan pengembangan desa itu menjadi sentra tanaman jeruk dan wisata, banyak pihak turut terlibat. Salah satunya adalah koperasi.

Hal itu diakui Sulaiman, 72, salah satu perintis perkebunan jeruk di di Dusun Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau. Ada setidaknya 300 hektar lahan jeruk di desa ini. Sementara di seluruh Kecamatan Dau ada sekitar 700 hektar tanaman jeruk.

Untuk bisa mengembangkan perkebunan jeruk, kata Sulaiman, dia dan anggota kelompok taninya, yakni Kelompok Tani Margomulyo, yang berjumlah 100 orang mendapat dukungan pembiayaan dari koperasi untuk mengembangkan tanaman jeruk di lahan mereka.

"Awalnya mendapat kucuran dana dari KUD (Koperasi Unit Desa). Petani diberi pinjaman satu tahun Setelah satu tahun pinjam lagi. Itu sampai tahun 2000 gak keluar lagi. Saya masuk Kanindo. Pinjem per hektar. Satu hektar mendapat Rp10 juta. Lalu kembalinya Rp11 juta," tutur Sulaiman.

Kanindo atau Koperasi Agro Niaga Indonesia adalah koperasi syariah yang bergerak di bidang simpan pinjam. Koperasi ini memiliki ratusan anggota di wilayah Kabupaten Malang.

Sulaiman menuturkan bahwa petani membutuhkan dana besar untuk mengembangkan tanaman jeruk. Dana itu digunakan untuk membeli bibit, pupuk dan tenaga kerja. "Modal besar. Satu hektar bisa menghabiskan dana Rp40-50 juta," tutur Sulaiman yang memiliki kebun jeruk seluas 10 hektar.

Namun jerih payah tersebut terbayar saat panen. Setidaknya Sulaiman bisa mengantongi Rp150 juta per hektar setiap kali panen. Pendapatan itu bisa lebih besar lagi jika harga jeruk sedang mahal.

Manfaat kehadiran koperasi juga dirasakan H. Imron Rosyadi, (56), seorang petani apel di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Sejak mengenal Koperasi Kanindo Syariah pada 2003, Imron terus mengandalkan pembiayaan dari koperasi untuk mengembangkan perkebunan apelnya yang luasnya 2 ha.

Dia mengakui kemudahan yang diberikan koperasi membuatnya tidak tertarik untuk meminjam ke bank atau sumber pembiayaan lainnya. Tahun lalu, Imron meminjam Rp50 juta dari.

Sementara itu, Rumiah, 50, warga Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, berhasil mengembangkan usaha sapi perahnya dari satu ekor sapi menjadi 20 ekor setelah meminjam dari Kanindo Syariah. Rumiah mengatakan selain untuk biaya perawatan sapi, pinjaman juga digunakan untuk membeli sapi.

Untuk pembayaran, Rumiah mengandalkan pendapatan susu perah sapi miliknya. Dari 20 ekor sapi, dia bisa mendapatkan susu sebanyak 200 liter yang dijual ke koperasi susu dengan harga Rp6000 per liter.

Direktur Kanindo Syariah Umar Zaini mengatakan kemampuan bayar para petani dan peternak yang menjadi anggota koperasinya cukup bagus. "Kemampuan bayar petani lancar. Biasanya pembayaran setelah panen. Tunggakan sekitar 5%," tutur Umar.

Kanindo Syariah yang berdiri pada 1998 saat ini memiliki 15 ribu anggota. Aset yang mereka kelola mencapai Rp45 miliar.

Kanindo Syariah sendiri awalnya mendapatkan kucuran dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM. Namun seiring peningkatan aset mereka, koperasi ini tidak lagi mengajukan pinjaman ke LPDB. "Sudah tidak pinjam lagi karena dana mencukupi," jelas Umar.

Direktur Utama LPDB Braman Setyo mengatakan peranan koperasi yang ditunjukkan pada para petani jeruk dan apel di Kecamatan Dau menunjukkan peran penting koperasi dalam menyukseskan anggota-anggotanya.

Dia mengatakan peranan yang ditunjukkan koperasi khususnya Kanindo Syariah, di wilayah ini cukup bagus. Koperasi bukan hanya memberikan pinjaman melainkan juga bimbingan kepada para penerima pinjaman. Mereka juga memberikan feedback dan menyampaikan kekurangan-kekurangan anggotanya. "Ini contoh yang patut ditiru," katanya. (E-3)

BERITA TERKAIT