18 February 2020, 08:35 WIB

Coronavirus dan Kisahnya Melintas Era


Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Balitbangtan Kementerian Pertanian Ni Luh Putu Indi Dharmayanti | Opini

SEJAK pertengahan Desember 2019, coronavirus menjadi isu panas di semua belah­an dunia, bahkan menjadi trending topic di berbagai platform media sosial. Informasi penyakit emerging yang muncul di era media sosial sangat menyebar secara cepat. Bahkan, melebihi penyebaran virus itu sendiri.  

Hal itu sangat kita rasakan perbedaannya saat beberapa penyakit zoonosis emerging, seperti SARS pada 2002-2003, H1N1pdm pada 2009, bahkan MERS CoV pada 2013. Meskipun semua penyakit zoonosis tersebut menjadi top isu, rasanya tidak ada yang menyamai level ‘popularitas’ coronavirus saat ini.

Hampir semua segmen sosial, usia, dan pergaulan sangat mengenal co­ronavirus dan merasakan ketakutan besar terhadap penyakit ini. Berita hoaks ataupun misinformasi lainnya juga ikut menyumbang kepanikan. Di era media sosial, kepanikan tersebut secara cepat menular, bahkan masuk ke setiap perbincangan di semua platform media sosial, terutama Whatsapp group.

Sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan, Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian dari sisi tugas dan fungsi melakukan riset di bidang penyakit hewan, zoonosis, dan kesmavet. Sedikit uraian tentang penelitian maupun telaahan kami terhadap berbagai sumber publikasi internasional tentang coronavirus, kami harapkan bisa menjadi rujukan masyarakat, terutama tentang coronavirus jenis baru, yaitu covid-19.

Menelusur coronavirus

Coronavirus merupakan virus RNA, yang tidak bersegmen, beruntai positif, dan memiliki empat protein struktural utama, yaitu protein spike (S), membran (M), envelope (E), dan nukleokapsid (N). Sifat genom ini membuatnya mudah dalam mengakomodasi dan memodifikasi gen. Terdapat empat genus di dalam subfamili Orthocoronavirinae, di antaranya alphacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus, dan deltacoronavirus.

Coronavirus dapat menginfeksi sapi, babi, kuda, unggas, kucing, anjing, paus, lumba-lumba, kelelawar, landak, kelinci liar, dan rodensial. Diversitas coronavirus sangat dihubungkan dengan keragaman spesies kelelawar. Terdapat lebih dari 1.200 spesies kelelawar di seluruh dunia. Setidaknya terdapat 3.204 coronavirus pada lebih dari 102 spesies kelelawar dan beberapa di antaranya bersifat zoonosis.       

Kelelawar merupakan mamalia dengan kemampuan terbang yang sangat baik sehingga memiliki cakupan jarak migrasi yang lebih luas jika dibandingkan dengan mamalia darat. Cakupan jarak migrasi kelelawar yang jauh dihubungkan dengan kemampuannya dalam mentransmisikan berbagai penyakit, di antaranya bat lyssaviruses (virus rabies), henipaviruses (virus nipah dan virus hendra), CoVs (SARS CoV, MERS CoV, dan SADS CoV), dan filoviruses (virus marburg, virus ebola, dan virus mengla).  

Pada manusia, ditemukan 7 human coronavirus (HCoV), yaitu OC43, 229E, NL63, HKU1, SARS CoV, MERS CoV, dan covid-2019. Tiga virus di antaranya bersifat zoonosis, yaitu SARS CoV (2002), MERS CoV (2012), dan covid-2019.     

Mekanisme transmisi zoonosis coronavirus masih menjadi perhatian besar sampai saat ini. Kejadian wabah SARS pada 2002 dan MERS CoV pada 2012 dikaitkan dengan transmisi virus yang terjadi di antara hewan dan manusia. Kelelawar diduga sebagai inang dari kedua virus ini dan menginfeksi manusia melalui inang perantara.

2019-nCoV (covid-19) mulai muncul pada Desember 2019, di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Memiliki gejala klinis yang serupa dengan infeksi (SARS CoV) dan infeksi (MERS CoV), yaitu pneumonia, termasuk demam, kesulitan bernapas, dan infiltrasi paru-paru bilateral pada kasus yang paling parah.

Covid-2019 memiliki kemiripan sekuen dengan bat-CoV RaTU13, bat-SL-CoV ZC45 dan SARS CoV sehingga covid-2019 diperkirakan berasal dari kelelawar. Covid-2019 memiliki furin-like cleavage site pada protein spike yang tidak dimiliki betacoronavirus lainnya, termasuk virus SARS yang mungkin berperan dalam siklus hidup virus dan patogenitasnya.

Beberapa reseptor inang yang digunakan coronavirus untuk menginfeksi, di antaranya aminopeptidase N (HCoV-229E; FCoV; CCoV; TGEV; PEDV), angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) (HCoV-NL63 dan SARS CoV), dipeptidyl peptidase 4 (DPP4/CD26) (MERS CoV), 9-O-acetylated sialic acid (HCoV-OC43 dan HCoV-HKU1).

Coronavirus yang merupakan virus beramplop, sensitif terhadap panas, dan dapat secara efektif di­inaktivasi lipid solvent 56 selama 30 menit, ether, alkohol 75%, disinfektan yang mengandung klorin, peroxy acetic acid, dan kloroform.

Mengukur kemampuan RI menghadang covid-2019

Di Indonesia, coronavirus pada kelelawar dipublikasi Anandita et al (2015). Penelitian itu dilakukan di tiga lokasi, yaitu Yogyakarta, Surabaya, dan Paguyaman, serta mendapati tiga sampel feses kelelawar asal Paguyaman dengan positif coronavirus.

Data terbaru pada 2020 oleh Balitbangtan-BBLitvet, Kementerian Pertanian, yaitu melakukan penelitian pada kelelawar di Jabar dan Jateng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 16% sampel kelelawar positif coronavirus genus betacoronavirus.

Sekuen genom covid-2019 yang dideposit di dalam database GISAID memungkinkan peneliti di dunia dapat mengakses dan segera meng­analisis covid-2019. Teknologi saat ini telah memberi kemampuan para peneliti saling berbagi informasi terkini data secara real time.      

Hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi kemajuan besar dalam respons menghadapi wabah jika dibandingkan dengan wabah-wabah terdahulu. Teknologi yang saling menghubungkan peneliti ini telah memfasilitasi kepedulian, kolaborasi penelitian, dan respons tanggap yang cepat oleh komunitas peneliti seluruh dunia.

Terkait dengan pengujian covid-19, Indonesia mempunyai lembaga-lembaga riset yang menggunakan advance biotechnology dalam melakukan pengujian penyakit emerging pada hewan maupun manusia atau penyakit zoonosis lainnya. Untuk covid-19, WHO menyediakan ­guidance untuk pengujian laboratorium yang bertujuan memandu laboratorium yang terlibat dalam pengujian sampel dari pasien terduga covid-19.

Laboratorium di dunia, termasuk Indonesia, mempunyai networking dan menjalin komunikasi dalam hal pengujian itu serta saling sharing, baik bahan maupun metode sehingga tidak perlu diragukan lagi tentang kemampuan Indonesia dalam mendeteksi penyakit covid-2019.  

Dalam merespons penyakit covid-2019, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian juga telah memperketat karantina untuk sejumlah produk pertanian dari luar. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo para petugas karantina pertanian melakukan pemeriksaan lebih intensif.  

Mitigasi dilakukan di gerbang-gerbang masuk produk pertanian, terutama dari negara-negara dengan kasus positif covid-2019. Kementan sudah mengeluarkan instruksi kewaspadaan terhadap lalu lintas media pembawa yang berisiko tinggi sebagai penular virus dan melakukan tindakan perlakuan, seperti menggunakan desinfektan berbahan aktif terhadap hewan dan peralatan yang menyertai.

Hingga saat ini, Indonesia masih dinyatakan bebas dari covid-2019. Untuk mempertahankan kondisi ini, dibutuhkan kesiagaan semua pihak. Kementerian Pertanian di semua lini akan berupaya berada di barisan terdepan melindungi masyarakat.

BERITA TERKAIT