18 February 2020, 08:05 WIB

Formula E di Monas Konservasi Vs Komersialisasi


Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga | Opini

EDITORIAL Media Indonesia, kemarin, berjudul Pemerintah Pusat Harus Tegas, sudah sangat jelas dan lugas untuk menuntut pemerintah pusat bersikap tegas membatalkan perizinan pelaksanaan Formula E di dalam kawasan Monas (Monumen Nasional) yang sudah telanjur dikeluarkan. Tidak ada kata terlambat demi konservasi kawasan Monas.

Penggunaan kawasan Monumen Nasional sebagai lokasi sirkuit balapan Formula E mendapat penolakan dari sebagian masyarakat. Keberadaan Tugu/Monumen Nasional dan Lapangan Merdeka/Monas telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya sesuai Keputusan Gubernur DKI Nomor 475 Tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di DKI Jakarta.

Hal itu diperkuat Tugu/Monumen Nasional dan Lapangan Merdeka/Monas telah terdaftar resmi dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan demikian, merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kawasan Monas harus dilindungi, dipelihara sesuai keasliannya, dan dilarang dipergunakan untuk kegiatan yang mengubah kawasan.

Pembangunan konstruksi lintasan sirkuit di dalam kawasan Monas beserta bangunan pendukung, seperti paddock, pit stop, area VIP, dan bangku penonton tentu sedikit-banyak akan mengubah kawasan cagar budaya ini. Penjelasan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DKI yang tidak merekomendasikan kawasan Monas dijadikan sebagai ajang balap­an Formula E harusnya dipatuhi pemeritah DKI dengan memindahkan lokasi sirkuit.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah DKI Jakarta, Komisi Peng­arah berhak membatalkan surat izin tertanggal 7 Februari 2020 tentang penyelenggaraan Formula E di dalam kawasan Monas yang sudah diberikan kepada pemerintah DKI.

Komisi Pengarah juga dapat menolak surat tertanggal 11 Februari 2020 terkait dengan usulan desain sirkuit Formula E di dalam kawasan Monas yang diajukan pemerintah DKI karena terbukti TACB DKI tidak pernah merekomendasikan pelaksanaan Formula E di kawasan Monas seperti yang dimintakan Komisi Pengarah.

Persyaratan ketat

Perlu diingat kembali bahwa penyelenggaraan Formula E merupakan bagian dari kampanye gerakan global untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik. Kebijakan kendaraan listrik terdorong kepedulian terhadap isu-isu lingkung­an, antara lain pencemaran udara, ter­utama akibat emisi gas buang dan kemacetan di kota-kota besar, serta isu perubahan iklim dan pemanasan global.

Karena Formula E merupakan bagian dari kampanye lingkungan global, tentu penyelenggaraan Formula E juga dituntut persyaratan ketat. Salah satunya, menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkung­an. Salah satu prinsip dasar pembangunan berkelanjutan ialah melindungi dan melestarikan kawasan cagar budaya.

Pemindahan lokasi sirkuit balap­an Formula E dari kawasan Monas justru merupakan tindakan mulia sebagai bentuk menghargai dan menghormati nilai penting sejarah dan nilai etika kawasan cagar budaya Monas. Kawasan Monas yang terdiri atas tiga zona, yakni zona Taman Medan Merdeka (Tugu Monas dan Lapangan Monas), zona penyangga, dan zona pelindung.

Kawasan Monas sebagai RTH dengan peruntukan hutan kota didukung kegiatan sosial-budaya. Sebagai paru-paru kota Jakarta, pemerintah DKI wajib menghijaukan kawasan Monas dan menanam lebih banyak pohon besar. Hamparan rumput dan hutan kota yang lebat akan memperkuat kesan sakral dan monumental Tugu Monas.

Kawasan Monas harus dipandang sebagai cagar budaya nasional, aset bangsa dan negara. Hal itu sesuai tujuan awal, yakni mewujudkan citra Tugu Monas sebagai lambang perjuangan bangsa serta memberikan kebanggaan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Komisi Pengarah melalui Kementerian Sekretariat Negara dapat memberikan solusi dengan menawarkan lokasi lain untuk sirkuit Formula E yang di bawah pengelolaannya, seperti kawasan Gelora Bung Karno Senayan di Jakarta Selatan atau kawasan Kemayoran di Jakarta Pusat.

Kota Jakarta masih memiliki banyak alternatif lokasi yang layak dijadikan sirkuit balapan Formula E. Pemberian hak penyelenggaraan Formula E selama lima tahun ke depan di Jakarta tentu memberikan banyak pilihan lokasi sirkuit Formula E sekaligus kesempatan mempromosikan destinasi wisata yang ada di Jakarta.

Jakarta bukan hanya Monas. Itu yang harus dipahami pemerintah DKI. Untuk lintasan balapan di jalanan, pemerintah DKI dapat memilih rute Bundaran Hotel Indonesia ke Bundaran Jembatan Semanggi di Jakarta Pusat atau kawasan Kota Tua di Jakarta Barat.

Jika ingin sirkuit balapan dalam kawasan, Formula E dapat diselenggarakan di kawasan Ancol, di atas lahan yang akan dibangun Stadion BMW di Jakarta Utara, atau Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur. Pulau-pulau hasil reklamasi juga potensial untuk dibangun sirkuit Formula E.

Kajian lingkungan perlu segera dilakukan terhadap kesiapan lokasi, aksesibilitas ke lokasi, dukungan jaringan transportasi massal terdekat, ketersediaan kantong parkir, antisipasi rekayasa lalu lintas, serta akomodasi yang memadai.

Penetapan rencana penyelenggaran Formula E pada 6 Juni 2020 perlu segera dievaluasi dan dikaji bersama pemerintah DKI, panitia penyelenggara, dan perwakilan Federasi Otomotif Internasional. ­Apakah pelaksanaan Formula E tetap sesuai jadwal atau terpaksa diundur dan dijadwalkan ulang.

Pada akhirnya, kawasan Monas sebagai cagar budaya nasional harus dibebaskan dari praktik-praktik komersialisasi dengan membangun semangat konservasi dan mewa­riskan nilai-nilai sejarah penting bangsa Indonesia yang terkandung luhur di dalamnya.

BERITA TERKAIT