17 February 2020, 14:31 WIB

Indonesia-Belanda Bisa Bekerja Sama Tangani Banjir


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

SEBAGIAN besar wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Pemerintah Negeri Kincir Angin pun bekerja keras untuk membuat kaki masyarakatnya tetap kering, aman dari bencana banjir dan bisa tidur nyenyak.

Jeroen Kramer selaku juru bicara Kering Huis, pengelola penghalang gelombang badai Meslantkering di Nieuwe Waterweg, Provinsi South Holland, mengatakan banjir merupakan masalah yang banyak terjadi di seluruh dunia.

"Begitu juga dengan upaya yang dilakukan di Jakarta. Saya pikir kita memiliki banyak kesamaan masalah, sehingga perlu bekerja erat untuk bersama-sama melindungi setiap orang di masa depan," ujar Kramer kepada delapan wartawan Indonesia, termasuk Media Indonesia, di kantornya, Minggu (16/2) waktu setempat.

Pada 1953, Belanja dikejutkan bencana banjir besar atau dikenal Banjir Laut Utara. Kramer mengatakan hampir 2.000 jiwa meninggal tenggelam.

Baca juga: Waspadai Bencana Banjir di 2020

Belajar dari kesalahan masa lalu, lanjutnya, pemerintah saat itu bertekad agar kejadian serupa tidak pernah terulang. Keteguhan itu berhasil membuat Belanda sebagai pionir dalam membangun infrastruktur raksasa pengelolaan banjir.

"Saya ingin mengatakan kenapa kami sangat baik dalam masalah ini karena air merupakan 'DNA' kami, dan kami belajar dari kesalahan," tegas Kramer.

Maeslantkering merupakan elemen terakhir Dari Delta Works, yakni serangkaian proyek konstruksi di barat daya Belanda, untuk melindungi area tanah yang luas dari ancaman laut. Karya tersebut terdiri dari bendungan, pintu air, tanggul dan penghalang gelombang badai.

Kramer menegaskan Maelantkering cukup untuk melindungi Belanda hingga 80 tahun ke depan. Sekaligus, dirancang untuk menghadapi tantangan sampai 2100. Hal ini juga menjawab ancaman perubahan iklim yang tecermin dari kenaikan permukaan air laut.

Baca juga: Kewenangan Tumpang Tindih, Penyebab Jakarta Banjir Terus

"Selanjutnya, tentu kita harus memikirikan ide baru. Karena mungkin kita akan mengalami 3 atau bahkan 8 meter kenaikan permukaan laut," terangnya.

Dibangun periode 1991-1997 dan menelan biaya sekitar 500 juta euro atau setara Rp 7,4 triliun, dua pintu baja Maeslantkering di kedua bibir laut akan secara otomatis menutup ketika Rotterdam terancam banjir. Proyek tersebut dikendalikan teknologi superkomputer yang memberikan peringatan, ketika permukaan laut diperkirakan akan naik 3 meter. Apalagi wilayah itu kerap menghadapi ketinggian air hingga 2,5 meter.

Maeslantkering dibangun dengan mempertimbangkan dampak ekologi dan kesadaran lingkungan yang biasanya terbaikan dalam pembangunan proyek infrastruktur raksasa. Penahan badai ini memungkinan untuk migrasi ikan dan air asin mengalir masuk dan keluar bersama air pasang. Dalam kondisi cuaca normal, dua pintu barrier di kedua sisi laut terbuka, memungkinkan sekitar 300 kapal mengakses jalur air setiap hari tanpa rintangan.

Sejak resmi dioperasikan, Maeslantkering baru dua kali ditutup, yaitu saat badai dahsyat pada 9 November 2007 dan 3 Januari 2018. Setiap tahun, dilakukan uji coba penutupan pintu untuk keperluan perawatan. Adapun biaya perawatan mencapai 20-25 juta euro atau setara Rp 296 miliar per tahun.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT