17 February 2020, 10:55 WIB

Roket Hantam Markas Pasukan AS


Hym/X-11 | Internasional

SEJUMLAH serangan roket menghantam sebuah markas pasukan Amerika Serikat di dekat gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibu kota Irak, Baghdad, kemarin pagi. Insiden ini yang terbaru dalam serangkaian serangan terhadap aset 'Negeri Paman Sam' di negara itu.

Serangan itu membuat sirene peringatan menggelegar di seluruh area markas diplomatik.

Sumber AS dan seorang diplomat Barat mengaku masih belum jelas berapa bangunan yang terkena, berapa banyak roket yang menghantam, maupun berapa jumlah korban.

"Memang benar telah terjadi serangan roket, tapi tidak ada korban jiwa," kata juru bicara pasukan koalisi Barat di Irak, Myles Caggins.

Koresponden AFP mendengar beberapa ledakan kuat terjadi yang kemudian diikuti pesawat yang berputar di dekat Zona Hijau, daerah kantong keamanan tinggi tempat misi AS berada.

Serangan kemarin juga terjadi hanya beberapa jam setelah salah satu faksi Hashsha-Shaabi yang didukung Iran, Harakat al-Nujaba, mengumumkan 'penghitungan mundur' untuk mengusir pasukan AS dari negara itu. Seorang pemimpin Nujaba mengaku pasukannya telah mendekati markas pasukan AS.

Hashsha-Shaabi merupakan sebuah jaringan milisi yang secara resmi dimasukkan ke pasukan keamanan negara Irak.

 

Serangan berlanjut

Serangan roket tersebut merupakan serangan ke-19 sejak Oktober 2019 yang menargetkan kedutaan AS atau sekitar 5.200 tentara AS yang ditempatkan bersama pasukan lokal di seluruh Irak.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan itu, tetapi AS menyebut pelakunya ialah kelompok-kelompok yang tergabung dalam Hashsha-Shaabi.

Pada akhir Desember, serangan roket ke markas K1 di Irak utara menewaskan seorang kontraktor AS dan menyebabkan serangkaian peristiwa dramatis.

Washington menanggapi serangan roket tersebut dengan serangan balasan terhadap faksi garis keras Hashsha-Shaabi di Irak barat.

Beberapa hari kemudian, serangan pesawat nirawak AS di Baghdad menewaskan seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani, dan tangan kanannya, wakil kepala Hashsha-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, saat berkunjung ke Irak.

Faksi-faksi bersenjata Irak dan Iran telah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian dua figur penting tersebut. (Hym/X-11)

BERITA TERKAIT