17 February 2020, 08:40 WIB

Kepiawaian Politik dan Ekonomi Jadi Pembelajaran


Hendra Saputra | Politik dan Hukum

JELANG pelaksanaan Kenduri Kebangsaan akhir pekan ini, atau tepatnya Sabtu (22/2), seminar untuk menggali pemikiran akademisi dan pakar tentang Aceh digelar.

Para akademisi dan pakar memandang Provinsi Aceh dapat bangkit membangun sumber daya manusia dan perekonomian setempat dengan mengindahkan kearifan lokal.  

Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Mawardi Umar menilai kemiskinan di Aceh merupakan ironi di tanah yang subur dan kaya sumber daya alam. Apalagi Aceh pernah berjaya pada masa Kesultanan Iskandar Muda.

“Aceh pernah menjadi salah satu kesultanan Islam yang paling sukses di Nusantara, baik di bidang politik, ekonomi, maupun intelektual,” ujarnya dalam seminar yang digelar Yayasan Sukma Bangsa, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan Forum Bersama (Forbes) DPR dan DPD RI Perwakilan Aceh di Kampus Unsyiah, Banda Aceh, Sabtu (15/2).

Menurut Mawardi, pada abad ke-17 Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang besar di bagian barat Nusantara. Kesultanan Aceh mampu membendung perkembangan kolonial Portugis.

Kejayaan masa lalu Aceh tidak terlepas dari kecerdasan rakyat Aceh yang saat itu memanfaatkan keuntungan posisi geografis Aceh sebagai pintu masuk Selat Malaka. Selat itu memiliki peranan sangat penting sebagai jalur pelayaran internasional.

Kejayaan itu perlahan terkikis  yang diawali masuknya kolonial Belanda. Meski Aceh gigih melawan selama puluhan tahun, hampir seluruh infrastruktur ekonomi hancur dan sektor sosial budaya mengalami kemunduran.

Staf pengajar ilmu sejarah Unsyiah, Qismullah Yusuf, menambahkan Aceh di masa lampau telah melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara di Eropa, seperti Inggris, Turki, dan Belanda.

Bukan hanya kemampuan politis, Kepala Pusat Atsiri Research Center Unsyiah, Syaifullah Muhammad, mengingatkan bahwa Aceh begitu kaya sumber daya alam. Komoditas seperti pala, cengkih, kopi gayo, dan nilam berpeluang mengembalikan kejayaan Aceh di masa depan.
Bencana

Peneliti Tsunami Mitigation Reserch Center Unsyiah, Alfi Rahman, mengatakan keruntuhan Aceh bukan hanya karena kolonialisme Belanda. Gempa dan tsunami turut merontokkan Aceh.

Hasil penelitian di Gua Ek ­Leuntie, Aceh Besar, menunjukkan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004 bukan yang pertama kalinya. Tsunami serupa pernah terjadi di Aceh ratusan tahun sebelumnya.

Seperti di Kepulauan Simeulue, masyarakat lokal akrab dengan istilah smong. “Kisah smong salah satu budaya lokal masyarakat Simeulue yang disebut nafi-nafi atau cerita tutur tentang kisah masa lalu yang masih dilestarikan,” jelas Alfi.

Diharapkan, berbagai kejadian masa lalu menjadi pembelajaran bagi Aceh agar mampu bangkit untuk mengembalikan kejayaan.

Kenduri Kebangsaan 2020 pada 22 Februari mendatang akan berlangsung di Kabupaten Bireuen. Presiden Joko Widodo bakal  hadir dalam acara yang dimaksudkan untuk memperoleh gagasan dan masukan bagi pembangunan Aceh tersebut. (P-2)

BERITA TERKAIT