17 February 2020, 10:00 WIB

Ini Lho, Dua Fokus yang Dikerjakan BTN Tahun ini


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. kini tengah berfokus untuk meningkatkan kualitas bisnis dengan menggenjot kualitas kredit dan penghimpunan tabungan.

Langkah prioritas tersebut diambil untuk mengantisipasi berbagai tantangan ekonomi pada tahun 2020 ini hingga menggarap potensi-potensi bisnis yang terbuka lebar.

Direktur Finance, Planning, dan Treasury Bank BTN Nixon L. P. Napitupulu mengatakan bahwa pada tahun 2019 telah menjadi periode yang menantang bagi perseroan. Kewajiban untuk mempersiapkan implementasi aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 hingga pengetatan likuiditas perbankan dikatakan telah menjadi persoalan utama yang bisa menekan kinerja perseroan pada 2019.

Dapat Dirut Baru, BTN Berbenah

Dalam rangka implementasi aturan tersebut, Nixon menjelaskan perseroan telah melakukan penyesuaian kolektibilitas kredit. Penyesuaian itu pun turut mengangkat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sehingga memerlukan peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

"Likuiditas perbankan yang ketat mengakibatkan persaingan bunga dan menyumbang kenaikan beban bunga dana perseroan. Kedua faktor tersebut berdampak signifikan bagi profitabilitas perseroan pada 2019. Sehingga pada tahun ini kami berfokus memperbaiki kualitas kredit dan memacu penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) untuk mengantisipasi berbagai tantangan ekonomi sekaligus sebagai amunisi menggarap berbagai peluang bisnis pada 2020,” ungkap Nixon dalam keterangan resmi, Minggu (16/2).

Lebih lanjut, Nixon optimistis dengan adanya peningkatan CKPN, perbaikan kualitas kredit, dan likuiditas yang kuat tersebut juga akan memperkuat pondasi bisnis perseroan. Adapun, berbagai aksi strategis pada perbaikan kualitas kredit yang akan dilakukan emiten bersandi saham BBTN ini yakni memperbaiki proses inisiasi kredit, memperkuat collection management system, hingga mempercepat penjualan aset non-performing loan (NPL).

“Dengan berbagai inisiasi tersebut, kami optimistis rasio NPL gross pada tahun ini dijaga di level 3%-3,5%," lanjutnya.

Nixon menuturkan upaya memperbaiki proses inisiasi kredit akan dieksekusi dengan mengoptimalkan regional processing center (RPC). RPC tersebut memiliki keunggulan lebih efektif karena dapat mempercepat proses namun tetap memerhatikan kualitas kredit.

Upaya lain yang dilakukan yakni mengsentralisasi proses kredit komersial di bawah Rp10 miliar, mengembangkan decision engine untuk credit approval, robust scoring model, hingga automatisasi proses verifikasi dan simplifikasi dokumen.

"Kemudian, aksi memperkuat collection management system akan dilakukan dengan meningkatkan early bucket dengan collection scoring. Bank BTN, juga akan membentuk unit kerja baru untuk mempercepat penyelesaian kredit macet. Perseroan pun akan memperbaiki proses bisnis restrukturisasi kredit," ujar Nixon.

Sementara itu, Nixon menambahkan terkait upaya mempercepat penjualan aset NPL, BBTN pun akan terus memperluas channel penjualan. Penjualan akan dilakukan antara lain melalui portal rumah murah hingga partnership dengan e-commerce. Bank BTN pun akan mempercepat eksekusi aset NPL dan lelang melalui jalur hukum.

Di samping berbenah di sisi kualitas kredit, tahun ini BTN juga berupaya mengembalikan hakikat perseroan sebagai bank tabungan. Opsi yang dipilih yakni dengan akselerasi di lini bisnis penghimpunan simpanan. Nixon mengatakan ada berbagai strategi yang telah diracik perseroan untuk mengakselerasi penghimpunan DPK.

"Beberapa aksi yang akan kami lakukan yakni meningkatkan current account and saving account (CASA) melalui penjualan produk bundling, memperbaiki model sales manajemen, menjadi bank operasional bagi nasabah institusi, hingga mengoptimalkan penggunaan digital channel perseroan," pungkasnya.

Sementara itu, untuk menggenjot CASA, perseroan telah meluncurkan BTN Solusi, program yang memberikan solusi bagi instansi atau lembaga untuk mengelola tabungan payroll/gaji dari karyawannya sekaligus memberikan beragam manfaat yang dapat mendukung kebutuhan finansial bagi instansi dan karyawan.

Aksi lain yang akan dilakukan yakni melakukan re-aktivasi tabungan debitur yang tidak memiliki tabungan atau yang telah ditutup. Selain itu, bank yang dulunya bernama Bank Tabungan Pos ini juga meningkatkan interkoneksi SPAN BTN, sebuah program bundling pengelolaan dana pemerintah. Bank BTN juga terus mengembangkan branchless banking untuk menciptakan rantai nilai transaksi dan menabung melalui agen bank di lingkungan perumahan.

“Variasi strategi tersebut akan menjadi fokus jangka Panjang yang dimulai sejak 2020. Kami membidik DPK akan tumbuh 10%-15% pada tahun ini,” tutup Nixon. (Des/E-1)

BERITA TERKAIT