16 February 2020, 15:15 WIB

6.000 Mayat Ditemukan di Enam Kuburan Massal Burundi


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

LEBIH dari 6.000 mayat ditemukan di enam kuburan massal di Burundi. Penemuan di Provinsi Karusi tersebut adalah yang terbesar sejak pemerintah meluncurkan penggalian nasional pada Januari 2020.

Pierre Claver Ndayicariye, Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Burundi, mengatakan jenazah 6.032 korban, serta ribuan peluru, telah ditemukan. Pakaian, kacamata, dan rosario digunakan untuk mengidentifikasi beberapa korban.

Negara Afrika timur itu berjuang untuk berdamai dengan masa lalu yang penuh kekerasan, yang ditandai oleh kolonialisasi, perang saudara, dan pembantaian selama beberapa dekade.

Mengacu pada satu pembantaian yang diyakini telah menargetkan orang-orang dari kelompok etnis Hutu, Ndayicariye mengatakan keluarga para korban bisa 'menyuarakan pembungkaman' yang diberlakukan 48 tahun lalu.

Penduduk Burundi terbagi antara kelompok etnis Tutsi dan Hutu. Perang saudara--yang menewaskan 300 ribu orang sebelum berakhir pada 2005--memiliki nuansa etnis.

Komisi yang dikelola pemerintah dibentuk pada 2014 untuk menyelidiki kekejaman dari 1885, ketika orang asing tiba di Burundi, hingga 2008, ketika kesepakatan damai yang terhenti untuk mengakhiri perang saudara dilaksanakan sepenuhnya.

Sejauh ini, komis telah memetakan lebih dari 4.000 kuburan massal di seluruh negeri dan mengidentifikasi lebih dari 142 ribu korban kekerasan. Mandatnya tidak mencakup sebagian besar pemerintahan presiden saat ini, Pierre Nkurunziza, yang mulai menjabat pada 2005.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan pelanggaran hak asasi manusia dapat meningkat lagi sebelum pemilu pada Mei. Sejak 2015, ketika Nkurunziza mencalonkan diri untuk jabatan ketiga, yang dipermasalahkan, ratusan warga Burundi tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan. (The Guardian/Hym/OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT