16 February 2020, 06:45 WIB

Hantu Wuhan di Bali


(M-1) | Weekend

AGUNG Ngurah menutup bean bag warna-warni dengan plastik. Mendung tebal memang menggayut di atas pantai di kawasan Seminyak, Bali, Kamis (13/2) itu.

Namun, suasana muram sebenarnya lebih terasa karena sepinya wisatawan. "Bukan hanya karena awan mendung. Beberapa minggu ini pantai memang agak sepi, mungkin salah satunya karena wabah virus korona. Jadi, banyak wisatawan yang membatalkan kunjungan ke Bali. Harusnya bulan-bulan ini diramaikan wisatawan dari Tiongkok," ucap Agung.

Kelesuan juga tampak di Jimbaran. Jumat (14/2), meja-meja restoran di kawasan terkenal sebagai destinasi wisata kuliner sekaligus spot akhir tur full day ini lebih banyak kosong.

Akibat wabah covid-19 atau virus korona yang muncul di Wuhan, Tiongkok, akhir tahun lalu, pemerintah Indonesia memang telah menutup penerbangan dari dan ke negara itu sejak 5 Februari 2020. Lesunya pariwisata kian terasa karena turis Australia juga turun signifikan.

Di tengah bisnis yang lesu, para pelayan seperti Agung dan Lalu mencoba tidak risau. Yang merantau dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi pelayan resto di Jimbaran sambil bergurau mengatakan kini ia bisa duduk santai, kontras dari biasanya di masa sunset sedang bagus ini.

Namun, gurauan itu bisa pula menjadi kecemasan dalam beberapa minggu ke depan. Sektor wisata jelas sangat bergantung pada jumlah kunjungan turis.

Sementara dalam kurun satu bulan terakhir saja kerugian akibat penutupan penerbangan telah mencapai Rp1 triliun dan 40 ribu pembatalan kamar hotel. Kerugian paling besar terjadi di Kuta dan Seminyak.

Berbagai strategi untuk meminimalisasi angka penurunan wisatawan telah dilakukan pemerintah Bali. Seperti memaksimalkan pasar wisatawan asing dari negara yang tidak terdampak serta memaksimalkan jumlah kunjungan wisatawan lokal.

Langkah lain ialah meminta pemerintah dan maskapai untuk menambah rute penerbangan alternatif, seperti dari Vietnam dan India. Pun upaya penurunan harga tiket pesawat penerbangan domestik.

Di sisi lain, Bali ialah wajah industri pariwisata nasional kita. Permasalahan saat ini semestinya menjadi pembelajaran bukan saja bagi industri dan pemerintah setempat, melainkan juga pemerintah pusat.

Wabah serupa covid-19 bukan tidak mungkin terjadi lagi di masa depan. Belum lagi berbagai permasalahan lain yang bisa menjadi hambatan wisata lintas negara. Karena itu, langkah-langkah menggenjot turis domestik juga harus dilakukan. (M-1)

BERITA TERKAIT