16 February 2020, 06:05 WIB

Menuju Olimpiade Dunia berkat Bahasa Jerman


Galih Agus Saputra | Weekend

SELAGI banyak orang di Indonesia masih sulit mempelajari bahasa Inggris, Abdul Fattah Bima telah menguasainya dengan cukup baik sejak SMP. Sebab itu pula, ketika di SMA, ia memilih peminatan bahasa asing lainnya, yakni bahasa Jerman.

Minatnya pada bahasa asing terbukti diikuti dengan kemampuan istimewa. Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta tersebut belum lama ini menjuarai Nationale Deutscholympiade atau Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional (2020) yang diselenggarakan asosiasi nonprofit di bidang kebudayaan dan bahasa Jerman, Goethe Institute.

Menjadi yang terbaik dari 74 finalis seluruh Indonesia, Bima panggilan akrabnyapun menjadi wakil Indonesia untuk bersaing dalam ajang Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Dunia, yang akan berlangsung di Dresden, Jerman, pada 26

Juli hingga 8 Agustus mendatang. Dalam kompetisi itu, Bima akan menghadapi 150 siswa SMA dari 75 negara. Lantas, bagaimana persiapannya dan manfaat apa yang ia petik dari belajar bahasa? Berikut wawancara Media Indonesia dengan Bima, Rabu (5/2).

Bagaimana awal mula ketertarikan kamu pada bahasa Jerman?

Saya memang suka belajar bahasa. Waktu SMP saya senang sekali belajar bahasa Inggris, saya ikut bimbingan belajar di Yogyakarta, hingga alhamdulillah ya lumayan fasih. Lalu setelah masuk SMA saya lihat ada bahasa Jerman, terus otomatis saya memilih. Selain itu, saya suka dengan bahasa Jerman karena bunyinya. Mungkin di telinga orang Indonesia bisa dibilang keren begitu bunyinya.

Tantangan yang ditemui selama belajar biasanya seperti apa?

Tantangannya itu harus setiap hari mengasah kemampuan berbahasa. Seperti yang saya bilang tadi, melalui baca-baca teks, mendengarkan audio bahasa Jerman, itu yang harus kita lakukan. Semacam learning by doing, begitu terus

Sampai bisa ikut Olimpiade, apa cukup dengan belajar di sekolah saja?

Di kurikulum sekolah, belajar empat jam per minggu. Dari situ saya bisa menjangkau semua materi-materi yang ada di kelas. Tapi, kalau mau ada ujian sertifikasi atau kemarin, seperti saya berpartisipasi dalam Olimpiade, setelah sekolah ada tambahan lagi kelas intensif. Itu biasanya dengan guru saya.

Selain itu, saya biasanya juga belajar banyak hal dari Youtube. Sekarang ini kan banyak sekali juga content creator yang membahas bahasa Jerman. Melalui konten ini, menurut saya, penonton bisa menambah kosakatanya secara drastis kalau melihat secara rutin. Selain itu, pengungkapan atau pelafalannya dari situ mungkin juga bisa meniru seperti orang native Jerman. Lalu, mereka (pembuat konten) sering membuat, seperti wawancara-wawancara di jalanan terus juga setiap video itu beda-beda temanya, jadi tidak bosan dan bisa mengenal obrolan dan budayanya.

Pertama kali ikut kompetisi kapan?

Pada September atau Oktober lalu, saya pernah ikut semacam kemah pelajar, yang mana juga diadakan oleh Goethe Institute dan berlangsung di Surabaya. Namanya Schuler Camp.

Untuk bisa masuk ke situ kita harus membuat sebuah video tentang lingkung an, lalu harus masuk nominasi. Yang lolos itu 20 pelajar, berasal dari sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

Alhamdulillahnya saya dan teman saya waktu itu video pendeknya bisa masuk nominasi terus kami dibayari oleh Goethe Institute untuk ikut Schuler Camp itu di Surabaya.

Di sana saya ketemu banyak teman yang sudah pernah sukses, baik di tingkat nasional maupun Asia-Pasifik.

Setelah tiba di sana, kita fokus membuat film. Ada dua film yang dibuat. Selain itu, didatangkan langsung dua tutor dari Jerman. Jadi, di sana kita bisa interaksi langsung juga dengan orang native Jerman.

Total selama sepuluh hari kita di sana, kita membuat video full bahasa Jerman, lalu kita mengangkat isu-isu lingkungan. Jadi berguna sekali untuk saya

Setelah menjadi juara dalam Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional ini, apa harapan selanjutnya?

Yang pasti ingin dapat peringkat satu atau minimal tiga besar. Menurut saya, persaingan juga cukup ketat karena seperti yang kita tahu setiap sekolah juga mengadakan pelatihan atau intensif intensif bagi siswanya sebelum Olimpiade. Oleh karena itu, saya juga merasa sebelum Olimpiade itu saya harus memiliki suatu nilai lebih daripada orang-orang lain.

Apalagi sekarang ini persaingannya juga dengan siswa di seluruh dunia, jadi harus lebih tekun.

Sebagai persiapan, saya setiap hari harus bisa menyediakan waktu paling tidak setengah jam untuk membaca atau mendengar audio bahasa Jerman, selain lewat Youtube tadi juga.

Menurut kamu, apa keuntungan dari belajar bahasa?

Menurut saya, ketika mempelajari suatu bahasa itu membuat otak kita lebih fit dan fresh. Kita bisa berpikir lebih logis, selain ide-ide kita juga lebih banyak. Selain itu, kalau di bahasa Jerman itu keuntungannya banyak sekali karena sekolah saya sekolah partner Jerman, nanti bisa dapat semacam beasiswa, yaitu Studienkolleg. Jadi, program ini ialah sekolah yang harus dilewati pelajar-pelajar dari Indonesia yang mau belajar ke Jerman

Lalu apa kamu juga belajar budaya mereka?

Budaya Jerman yang paling melekat buat saya itu adalah tepat waktu. Karena waktu Schuler Camp di Surabaya itu, seingat saya tidak pernah ada jadwal atau waktu kegiatan yang meleset. Jadi, selalu tepat waktu seluruhnya dan itu juga saya adaptasi hingga sekarang. (M-1)

BERITA TERKAIT