16 February 2020, 01:50 WIB

Main Lompat-lompatan yang Berbuah Prestasi


Fetry Wuryasti | Weekend

ADA satu anak yang cukup mencolok di antara anggota Houbii Sports Academy (HSA) dan para pengunjung arena trampolin. Dia ialah Raden Ajeng Agatha Lachany Habie Putri atau akrab disapa Agatha, 11.

Sementara yang lain masih lebih banyak sekadar bermain, ia tampak serius melatih berbagai gerakan. Agatha melatih otot dengan gerakan back up, headstand, serta berlatih lompatan flipback.

Berawal dari sekadar kunjungan bermain, untuk bersenang-senang di trampolin, Agatha mengaku masuk akademi atas saran ibunya. “Dasar saya juga tadinya ikut klub gimnastik di luar sekolah,” ujar siswi kelas 6 SD Mexico Jakarta atau Sekolah Dasar Negeri Gunung 05 Pagi Jakarta Selatan, saat ditemui, Sabtu (18/1), di Houbii Sports Academy, Jakarta.

Latihan tekunnya tiap akhir pekan berbuah hasil di kejuaraan trampolin Singapore untuk kategori terbuka umur, yang menghasilkan juara kedua 2018 dan juara ketiga di Juni 2019. Dia juga sempat melanglang ke Jepang untuk pertandingan trampolin.

Namun, dirinya masih mengalami kesulitan untuk beberapa gerakan seperti tsukahara, semacam gerakan backflip ganda berputar di udara. “Susah, tapi lebih ke takut. Kalau latihan sendiri saya seringnya mengambil hari libur atau kalau jam sekolah sedang pulang cepat,” cerita Agatha.

Selagi Agatha masih merintis jalan untuk serius menjadi atlet, pada sabtu (18/1) sore, itu, ada dua atlet nasional trampolin yang juga berlatih di lokasi tersebut. Mereka ialah Yudha Tri Aditya, 29, dan Calvin Ponco Ayaga, 19. Yudha dan Calvin merupakan dua dari tiga atlet pertama trampolin Indonesia.

Berbekal sebagai atlet daerah untuk senam gimnastik artistik, Yudha mencoba keberuntungan ikut seleksi terbuka untuk pelatnas Asian Games 2018. Terakhir kali dirinya mengikuti PON Jawa Barat 2016 untuk cabang senam artistik.

Terpentok pembatasan usia di Persani Jabar, akhirnya dia memutuskan profesi atlet daerahnya. Dia menemukan ‘ruang berlatih’ senam trampolin di saat bekerja menjadi pemain sirkus di Bandung.

“Saya terjun menjadi atlet senam trampolin setelah memenangi juara II kompetisi audisi terbuka trampolin di U2018 Championship yang diadakan Houbii Sport Academy. Tidak lama ada panggilan untuk seleksi Asian Games, lolos, dan saya masuk ke pelatnas,” cerita Yudha.

Selesai Asian Games, pihak Kemenpora memberi dia rekomendasi menjadi pelatih di Houbii Sport Academy (HSA) serta mengikuti berbagai kejuaraan dunia di bawah klub HSA.

Lain cerita, Calvin memutuskan berpindah ke nomor olahraga trampolin setelah menjadi atlet daerah Jambi untuk senam gimnastik artistik selama 11 tahun. Dia juga datang atas nama pribadi mengikuti U2018 Championship HSA untuk seleksi Asian Games 2018 dan masuk di tiga terbaik.

Setelah Asian Games 2018 berakhir, Calvin menjajal area trampolin internasional lainnya di Singapore Open 2018 dan meraih medali emas. Pada November 2019, dia juga mengikuti kompetisi trampolin di Jepang Machida Championship dan menduduki posisi ke-5.

Tidak sulit

Bergeser dari senam gimnastik artistik ke trampolin bagi Calvin tidak terlalu sulit. Pada senam artistik, atlet beratraksi dan mendarat di pijakan yang diam, sedangkan bila di senam trampolin, atlet membuka kaki, melakukan gerakan di udara, sebelum kemudian mendarat dan memantul di papan pegas.

“Trampolin lebih mudah dari artistik. Di senam artistik kita harus menguasai enam alat, dari gelang-gelang, meja lompat, kuda pelana, lantai, palang sejajar, dan palang tinggi, sedangkan media trampolin hanya satu. Ini mempermudah saya dan trampolin olahraga yang menyenangkan karena sambil berlompat-lompat,” jelas Calvin.

Nomor olahraga trampolin mulai diperkenalkan dan dikompetisikan Indonesia untuk pertama kalinya saat Asian Games 2018. Namun, memang di Indonesia trampolin sebagai turunan dari cabang olahraga senam gimnastik masih kurang berkembang.

Indonesia sendiri pada nomor tram­polin Asian Games kemarin hanya masuk dalam 9 besar. Namun, ini menjadi langkah awal untuk membangkitkan olahraga trampolin di Tanah Air.

Selama ini pelatihan para atlet senam daerah di Indonesia, kata Head Coach Houbii Sport Academy Lulu Manurung, juga tersedia peralatan trampolin di beberapa provinsi. Namun, karena belum memasyarakat dan tidak ada kompetisi secara nasionalnya, alat itu tidak tersentuh.

Dijelaskan Head of Houbii Sport Acade­my, R Indra Chandra, HSA merupakan wadah anak-anak berusia 5-12 tahun belajar olahraga yang disiplin dan membentuk karakter anak.

“Selain kesehatan, kami juga mendorong anak untuk berprestasi. Lebih ke kegiatan aktif anak untuk motorik kasar dan halusnya,” kata Indra.
Kegiatan di akademi ini memiliki basis pakem tertentu, yaitu berdasarkan kurikulum International Australian Gymnastic. Regulasi ini dipakai pada mayoritas gimnastik di seluruh dunia.

“Kurikulum Australia paling sesuai dengan kultur Indonesia. Levelisasinya mulai terendah hingga tertinggi. Ada dari level 1-10. Baru kami yang memakai kurikulum untuk fokus senam trampolin,”

Biasanya anak yang akan menjadi anggota HSA akan melakukan tes penempat­an. Setiap tiga bulan sekali anak akan mendapat evaluasi mengenai levelnya. Anak pun di rumah diberi tugas terkait dengan peregangan badan yang akan berguna saat mereka latihan di atas trampolin nanti.

“Dari kurikulum itu ada monatoring dari pelatih, lalu evaluasi diberikan ke orangtuanya untuk dikerjakan anak mereka,” kata Indra.

Kelas-kelas di HSA pun dilatih atlet trampolin Indonesia. Tujuannya memberi motivasi anak bahwa olahraga ini bisa diseriusi menjadi profesi. (M-1)

BERITA TERKAIT