15 February 2020, 15:30 WIB

Virus Korona Mulai Berdampak pada Impor


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

DAMPAK wabah virus korona mulai terlihat pada kinerja impor Indonesia dari Tiongkok. Tren penurunan impor mulai terasa di dua minggu sebelum hari raya imlek dan kian merosot di awal Februari 2020.

Penurunan impor dua minggu jelang dan sesudah imlek sebetulnya merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi. Akan tetapi dua minggu pascaimlek, penurunan terus berlanjut. Itu diindikasikan sebagai dampak dari virus korona.

Demikian dikatan Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea Cukai, Syarif Hidayat saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (15/2).

Baca juga: Wapres Minta Pengembang Perumahan Perhatian Kualitas Air Bersih

"Sampai dengan sebelum Februari memang terjadi penurunan karena itu masih tren imlek atau tahunan. Biasanya memang dua minggu sebelum dan dua minggu sesudah imlek memang terjadi penurunan," tutur Syarif.

Berdasarkan data yang diterima, tren penurunan importasi berdampak langsung pada nilai devisa Indonesia-Tiongkok. Di pekan ke-2 2020, nilai devisa importasi mencapai US$1,049 miliar dan merosot di pekan ke-6 2020 menjadi US$687 juta.

Penurunan itu diindikasikan dari adanya libur imlek dan deklarasi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) dari World Health Organization (WHO) atas virus korona.

"Tetapi memang data sampai tanggal 14 Februari ini masih terjadi penurunan. Seharusnya sudah normal atau naik lagi, tapi kelihatannya ini masih bergerak turun. Sehingga bisa diduga bahwa itu salah satu efek dari virus korona," sambung dia.

Meski begitu, Syarif mengatakan, penurunan impor yang terjadi belum dapat dikatakan sepenuhnya sebagai akibat dari virus korona. Kepastian itu baru bisa terlihat di akhir bulan Februari.

"Kita harus menunggu sampai dengan akhir bulan, nanti akan terlihat data sesungguhnya dan baru kita bisa confirm kalau terjadi penurunan (karena korona)," ungkapnya.

Syarif menjelaskan, sebetulnya barang-barang yang diekspor dari Tiongkok tidak berkaitan langsung dengan virus korona. Hanya saja produktivitas di Negeri Tirai Bambu memang tengah melambat lantaran virus tersebut.

Lebih lanjut, pelarangan impor dari Tiongkok yang diberlakukan pemerintah Indonesia sebetulnya sebatas pada live animal stock (barang binatang hidup). Pelarangan itu juga dinilai tidak terlalu berdampak signifikan pada tren menurunnya kinerja impor.

Pasalnya, impor binatang hidup yang dilakukan Indonesia dari Tiongkok relatif sedikit. "Selama ini live animal stock itu kalau dari Tiongkok itu relatif tidak ada dikirim ke Indonesia. Jadi itu antisipasi saja karena binatang itu dikhawatirkan jadi media penyebaran virus korona," ujarnya.

"Faktanya impor live stock animal seperti sapi dan binatang hidup lainnya itu tidak ada dari Tiongkok. Kalaupun ada itu jumlahnya kecil, sangat sedikit," jelas Syarif.

Kendati tak berdampak signifikan, Syarif mengatakan, petugas Bea Cukai tetap meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terkait potensi masuknya barang-barang ekspor dari Tiongkok.

"Dari manifes juga kita tahu, sehingga begitu kapalnya datang kita tidak akan izinkan untuk turun sampai selesai dikarantina. Petugas kami sudah paham betul, kalau ada binatang yang dikirim dari Tiongkok sekarang ini pasti tidak diizinkan untuk turun. Intinya kalau pun datang, petugas kami akan meminta agar mereka mengembalikan barang itu ke negaranya," pungkas Syarif.

Hal berbeda justru terlihat dari kinerja ekspor Indinonesia ke Tiongkok yang terbilang stabil. Di pekan ke-2 2020 nilai devisa ekpsor Indonesia-Tiongkok mencapai US$447 juta, naik di pekan ke-6 2020 menjadi US$508 juta.

Lebih lanjut, pergerakkan penumpang dari Tiongkok melonjak saat hari raya imlek pada 25 Januari 2020, tercatat sebanyak 7.792 orang masuk ke Indonesia dari Tiongkok. Akan tetapi jumlah itu beranjak turun sejak penetapan PHEIC pada 30 Januari menjadi 3.800 orang.

Baca juga: Mentan SYL: Pertanian Sultra Kekuatan Ekonomi Indonesia Timur

Titik terendah pergerakkan warga Tiongkok masuk ke Indonesia terjadi pada 5 Februari 2020 ketika Indonesia melarang perjalanan dari dan ke Tiongkok. Tercatat hanya ada 550 orang dan berangsur turun menjadi 3 orang di 8 Februari.

"Sampai tanggal 14 Februari sudah tidak ada penumpang dari Tiongkok," ungkap Syarif. (OL-6)

BERITA TERKAIT