15 February 2020, 06:30 WIB

Funnywati Sucipto Hati Terang di Tengah Kegelapan


(BUS/M-4) | Humaniora

UMUMNYA orang berbisnis untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tapi berbeda dengan Funnywati Sucipto. Ia berbisnis untuk berdonasi dan memenuhi janji kepada Tuhan.

Kehidupannya berubah saat ia merasakan matanya hampir buta. Kala itu pembulu darah di mata kanannya pecah hingga menyebabkan pandangannya terganggu dan membuat aktivitasnya terbatas, kehidupan Funny pun akhirnya berubah drastis.

"Pada suatu hari, kedua mata saya tertutup total, saya tidak bisa melihat dan bekerja lagi. Di saat kondisi saya yang sedang terpuruk itu, beberapa kali bahkan orangtua membantu biaya pengobatan saya. Saya merasa bersalah kepada ibu saya karena tidak seharusnya orang yang berambut putih membantu kita yang masih berambut hitam," ungkap Funny sembari mengingat-ingat cobaan yang pernah ia alami di masa lalu.

Cobaan yang ia alami telah membuka hatinya. Ia berdoa pada Tuhan agar diberi kesempatan untuk berbagi dengan sesama. Pada 2015, ia pun memulai usahanya berdagang pempek yang ia beri nama Pempek Funny sembari menyisihkan keuntungan dari penjualan pempeknya untuk didonasikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

"Pada saat saya sedang berada di kondisi terpuruk, ada teman saya yang kemudian mengingatkan saya tentang hukum karma. Ia bilang mungkin karma buruk saya sedang berbuah dan menyuruh saya untuk memperbanyak menanam kebaikan. Saya pun mulai berderma pada saat itu dan mulai membantu orang yang membutuhkan dengan berdonasi melalui hasil penjualan Pempek," ungkap Funny.

Nama Pempek Funny pun lambat laun mulai banyak dikenal hingga banyak masyarakat yang turut berpartisipasi menjadi relawan dan donatur dari gerakan kemanusiaan yang dimulai Funnywati Sucipto.

Kini Pempek Funny telah berhasil menyalurkan miliaran rupiah kepada mereka yang membutuhkan. Dari donasi tersebut, Funny juga berhasil membeli sebuah ambulans gratis yang diperuntukkan kepada para lansia dan orang-orang tidak mampu. Selain itu, melalui hasil jerih payah kerja-kerja kemanusiaannya, Funny pun berhasil membangun sebuah rumah singgah yang ia peruntukan bagi pasien luar kota yang sedang berobat di Jakarta dan membutuhkan tempat untuk berteduh selama beberapa waktu.

"Penyakit itu tidak mengenal agama. Karena itu, saya membantu orang-orang yang sakit dari semua agama," terang Funny.

Funny percaya bahwa di dunia ini berlaku sebuah karma. Ketika manusia menanam hal-hal baik, akan ada kebaikan pula yang akan bisa dituai di kemudian hari.

"Bantulah orang-orang dengan hati yang benar karena hanya karma yang baik yang bisa menolong kamu di saat kamu susah. Saya enggak ingin lagi saya buta karena buta itu susah," terang Funny. (BUS/M-4)

BERITA TERKAIT