14 February 2020, 19:15 WIB

Dibanding SARS dan MERS, Mortalitas Virus Novel Korona Rendah


Atalya Puspa | Humaniora

DUNIA tengah dihebohkan dengan adanya penyebaran virus novel korona (COVID-19) yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Dalam pandangan masyarakat luas, virus tersebut amat berbahaya dan mematikan.

COVID-19 sendiri merupakan salah satu jenis virus yang sama dengan virus SARS dan MERS. Namun begitu, Ketua Ikatan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto menyebut, angka kematian COVID-19 justru lebih rendah dibanding kedua saudara pendahulunya.

"Case fatality rate atau angka kematian COVID-19 lebih kecil dibanding SARS dan MERS," kata Agus kepada Media Indonesia, Jumat (14/2).

Agus menjabarkan mortalitas pembanding antara ketiga virus tersebut. SARS memiliki risiko kematian sebesar 10%, MERS sebesar 40%, sementara COVID-19 hanya sebesar 2% hingga 3%.

Berdasarkan data yang dihimpun dari laman WHO, pada 2002 jumlah pasien terkonfirmasi SARS yakni sebanyak 8.096 jiwa dengan jumlah kematian sebanyak 774 jiwa. Sementara, MERS menjangkit 2000 jiwa dengan jumlah kematian sebanyak 845 jiwa.

Sementara, COVID-19 hingga saat ini menjangkit sebanyak 64.437 jiwa. Adapun, sebanyak 6.961 orang berhasil sembuh, dan 1.383 meninggal dunia.

"Ini memang virulensi atau kecepatan penularan COVID-19 lebih cepat dibanding SARS dan MERS-COV. Tapi risiko kematiannya lebih rendah," ucapnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengamini pernyataan Agus. Dirinya meminta masyarakat agar jangan terpaku pada angka kematian COVID-19 yang melebihi SARS dan MERS.

"Kalau ngomong case fatality ratio, itu harus bandingkan yang meninggal dan sakit. Kalau kejadian yang sakit banyak, yang meninggal banyak. Itu virulensi," kata Anung.

Sampai saat ini sendiri, perkembangan penelitian menyatakan bahwa COVID-19 penularannya melalui droplet, atau kontak secara jarak dekat dengan pasien. Adapun, rumor penularan melalui airbond atau udara belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

"Sampai sekarang, 95% kejadiannya ada di Wuhan, dan sekarang Wuhannya sudah karantina. Jadi kita gak mikirin spreading penyakitnya lagi, yang ada angka kematiannya. Tapi sekarang kak terlihat, di Wuhan juga angka kesembuhannya meningkat," kata Anung.

Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan Erlina Burhan mengungkapkan, meskipun belum ditemukan obat maupun vaksin yang dapat membunuh COVID-19, namun virus dapat diredakan dengan mengobati gejala simptomatiknya, dan dapat hilang dengan sistem imun tubuh yang baik.

"Kita mengobatinya secara simptomatik. Diatasi demamnya. Yang jadi masalah gagal nafas yang membutuhkan bantuan nafas. Tata laksananya harus dilakukan dengan benar," ucapnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT