14 February 2020, 00:50 WIB

Korona tak akan Padamkan Api Olimpiade


(Akmal Fauzi/R-3) | Olahraga

DI malam yang cerah pada akhir pekan lalu, Taman Laut Odaiba tampak sangat terang benderang. Selain dari lampu Rainbow Brige, pencahayaan juga datang dari logo Olimpiade yang berdiri di sisi taman tersebut.

Logo yang berupa lima cincin saling tersambung itu kini menjadi salah satu daya pikat baru Taman Laut Odaiba, selain Rainbow Brige yang merupakan jembatan sepanjang 798 meter yang menghubungkan pulau reklamasi Shibaura Pier dan Odaiba.

Menurut salah satu warga Tokyo, Kaoru Kawanishi, logo Olimpiade itu baru ada sejak bulan lalu karena Jepang akan menjadi tuan rumah ajang tersebut pada musim panas besok.

Apa yang ada di Taman Laut Odaiba itu sebenarnya bukan satu-satunya bentuk sosialisasi soal Olimpiade di Jepang, khususnya Tokyo. Lima bulan jelang pembukaan pesta olahraga terbesar dunia itu, geliat Olimpiade semakin terlihat di berbagai sudut kota, seperti pernak-pernik di beberapa hotel dan spanduk berisi pesan waktu penyelenggaraan Olimpide.

Namun, bagaimana upaya pemerintah Jepang untuk menyosialisasikan Olimpiade berbeda dengan yang dilakukan Indonesia ketika hendak menggelar Asian Games 2018.

Kalau di Indonesia beragam atribut soal Asian Games tersebar bukan hanya di pusat keramaian, melainkan juga hingga ke kawasan permukiman. Sementara itu, di 'Negeri Sakura', hanya di tempat yang kerap dikunjungi turis, salah satunya di Shibuya.

Kuliner halal pun ikut jadi perhatian tuan rumah. Ini bisa dilihat dalam setahun terkahir, restoran halal banyak berdiri di Tokyo. Restoran tersebut menjajakan makanan khas Jepang, seperti mi soba, sushi, dan ramen. Namun, restoran itu pun siap melayani para kontingen muslim.

Dengan berbagai hal yang sudah dilakukan, pemerintah Jepang telah tegas bahwa mereka siap menggelar Olimpiade bahkan di tengah kondisi merebaknya virus korona yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan mengacaukan sejumlah kalender ajang olahraga di Asia.

Presiden Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori, juga mengatakan bahwa ajang yang sudah dipersiapkan sejak lama itu tetap akan berlangsung sesuai jadwal, yakni pada 24 Juli-9 Agustus.

"Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah nasional dan menyikapi situasi ini dengan tenang," katanya.

Sementara itu, Gubernur Tokyo Yuriko Koike telah berjanji untuk menerapkan langkah strategis untuk melindungi orang-orang dari korona menjelang Olimpiade.

Wali Kota Desa Olimpiade, Saburo Kawabuchi, berharap peningkatan kelembapan di Jepang dapat membunuh korona. (Akmal Fauzi/R-3)

BERITA TERKAIT