14 February 2020, 04:00 WIB

Perundungan Siswa di Sekolah masih Marak


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PERUNDUNGAN terhadap siswa masih marak terjadi di lingkungan sekolah, baik yang dilakukan guru terhadap siswa atau siswa secara berkelompok terhadap seorang siswa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta Kepala Dinas Pendidikan di daerah memperketat pengawasan terkait perundungan yang terjadi di beberapa sekolah belakangan ini.

Pada dua minggu belakang-an ini, terjadi perundungan yang menimpa seorang siswa SMA di Bekasi yang dilakukan gurunya. Di Purworejo, Jawa Tengah, seorang pelajar putri dianiaya rekan prianya karena mengadu kepada gurunya karena sering dipalak. Di Malang, Jawa Timur, seorang pelajar SMP dianiaya teman-temannya hingga harus diamputasi. Anehnya, perundungan itu dilakukan di ruang kelas atau lingkungan sekolah. Hal itu terungkap karena diviralkan di media sosial.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Ade Erlangga Masdiana, Kemendikbud sudah memberikan instruksi ke kepala dinas pendidikan setiap daerah agar memedomani Peraturan Mendikbud Nomor 82 Tahun 2015 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. "Proses belajar-mengajar itu tetap harus merdeka, tapi bukan tanpa aturan. Artinya, tidak ada lagi murid yang tertekan, tidak ada lagi guru yang tertekan," ucapnya.

Komisi Perlindungan Anak Indoinesia (KPAI) meminta perundungan yang dilakukan guru terhadap siswanya harus dibawa ke ranah hukum. Pernyataan KPAI tersebut sebagai respons atas peristiwa perundungan di sekolah Bekasi oleh oknum guru yang memukuli siswanya pada jam olahraga.

Tak berselang lama, perun-dungan juga terjadi di sekolah dasar di Jakarta Timur. Dinas Pendidikan setempat langsung menonaktifkan guru pelaku perundungan. "Sebagai pendidik, seharusnya dia melindungi anak-anak tersebut selama berada di sekolah, bukan malah menjadi pelaku kekerasan," ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

Retno pun mendukung perundungan yang dialami seorang siswi di satu sekolah di Purworejo dibawa ke ranah hukum. Kepolisian menetapkan ketiga pelaku kekerasan yang merupakan teman satu sekolah korban sebagai tersangka.

Polisi berdalih hal itu sesuai prosedur hukum dan merujuk UU Kekerasan terhadap Anak bahwa anak di bawah umur pelaku perundungan dengan akibat tertentu bisa dihukum. Sebelumnya, di Kota Malang, Jawa Timur, polisi menetapkan dua siswa yang merun-dung teman satu sekolahnya sebagai tersangka.

Bahaya perundungan

Masih maraknya perun-dungan di lingkungan sekolah, menurut akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Wisnu Widjanarko, bisa ditekan bila anak diberikan pemahaman mengenai bahaya dan dampak negatif perundungan. "Kampanye itu tentu perlu dibarengi dengan mengajarkan anak mengenai pen-tingnya kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada orangtua, guru, teman-teman, dan seluruh orang yang dikenalnya,"(Ant/H-1)

BERITA TERKAIT