13 February 2020, 23:50 WIB

Maskapai Bakal Dapat Insentif 21%


Hilda Julaika | Ekonomi

MENTERI Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan skema insentif kepada maskapai penerbangan, maksimal 21%, untuk menutupi kerugian akibat penundaan sementara penerbangan dari/ke Tiongkok sejak 5 Februari lalu.

“Jadi hasil dari diskusi kemarin, insentif untuk penerbangan domestik itu sebesar 21%. Bantuk insentifnya itu untuk penerbangan (flight),”ujar Budi di Kantor Kementerian Perhubungan Jakarta, Kamis (13/2).

Insentif sebesar 30% juga disiapkan untuk penerbangan ke luar negeri, seperti ke negara-negara di benua Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Budi mengatakan, keputusan pemberian insentif, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional, masih dalam tahap pembicaraan antarkementerian.

Pemikiran yang saat ini berkembang, sambungnya, insentif itu dalam bentuk pengurangan kewajiban maskapai dalam menyetor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Kita nanti ada rapat bersama Kemenkeu, Kemenhub, dan Kemenpar. Bentuk insentifnya apa, apakah pengurangan PNBP atau apakah pengurangan biaya lepas landas? Nanti dibahas di situ,” ujar Budi.

Jika semua kementerian menyetujuinya, rencananya usulan skema insentif itu akan dilaporkan ke Presiden Joko Widodo pekan depan.

“Jadi tim ini masih kerja, baru rapat satu putaran. Akhir minggu ini atau awal minggu depan difinalkan baru kita laporkan ke Presiden,” ungkap Budi.


Hilang US$2,8 miliar

Di kesempatan berbeda, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyebut potensi kerugian di sektor pariwisata akibat berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok ke Indonesia mencapai US$2,8 miliar dalam setahun.

Dalam catatannya, wisman asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia rata-rata mencapai 2 juta orang/tahun.

“Average spending per arrival (rata-rata pengeluaran per kunjungan) wisatawan Tiongkok US$1.400 dolar AS, dengan jumlah dua juta wisman dan nilai tukar dolar Rp14.000/dolar maka potensi kehilangannya mencapai US$2,8 miliar,” kata Wishnutama.

Angka itu, kata dia, hanya merupakan dampak langsung yang dirasakan sektor pariwisata akibat berkurangnya kunjungan wisman asal Tiongkok.

“Itu belum termasuk dari menurunnya tren perjalanan masyarakat dari negara lain,” katanya.

Mewabahnya virus korona dalam beberapa waktu terakhir mendorong banyak negara, termasuk Indonesia, menerbitkan kebijakan penghentian sementara bebas visa dan larangan pendatang atau penerbangan dari dan ke Tiongkok.

Hal itu merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi warga negaranya dari risiko tertular virus korona. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT