13 February 2020, 15:50 WIB

Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Ditutup untuk Wisatawan


Tosiani | Humaniora

BALAI Konservasi Borobudur selaku UPT di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membatasi kunjungan pada teras lantai 9 dan 10 Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mulai Kamis (13/2/2020) hingga waktu yang tidak ditentukan. Pembatasan berlaku untuk kunjungan umum, sunrise dan sunset.

Kepala Balai Konservasi Candi Borobudur, Tri Hartono dalam keterangan persnya mengatakan, pembatasan kunjungan itu untuk menjaga kelestarian candi. Sebab, candi peninggalan Agama Buddha dari Wangsa Syailendra tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada 1991 dengan nomor inventaris 592, bersama dengan Candi
Mendut dan Pawon, dengan nama resmi Borobudur Temple Compounds. Karena itu, Candi Borobudur terus dipantau oleh UNESCO.

Pemantauan atau monitoring dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu monitoring periodik dan monitoring reaktif. Monitoring periodik
dilaksanakan secara rutin tiap enam tahun sekali melalui penilaian atas pelaporan yang disusun oleh state party (pemerintah). Penilaian ini akan dievaluasi oleh Badan Penasehat (Advisory Body) dan dibahas pada sidang komite warisan dunia (World Heritage Committee).

Sedangkan monitoring reaktif dilaksanakan pada situs yang terindikasi adanya permasalahan yang dapat mengancam OUV situs, keadaannya terganggu atau terancam kelestariannya, hendak atau sudah dimasukkan ke dalam Warisan dalam bahaya (World Heritage in Danger), atau dipertimbangkan dihapus dari Daftar Warisan Dunia (World Heritage delisting). Dokumen laporan monitoring reaktif harus segera ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh oleh pengelola situs agar status warisan dunia dapat tetap terjaga. Badan Penasehat (Advisory Body) dan dibahas pada sidang komite warisan dunia (World Heritage Committee).

"Status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Candi Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Hal-hal yang berkembang di situs warisan dunia akan menjadi sorotan sehingga harus dikelola dengan tepat,"katanya, Kamis (13/2).

Upaya pelestarian Candi Borobudur, menurutnya telah dimulai sejak awal abad 20 dengan pemugaran pertama yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada 1907-1911.

Pemugaran kedua dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan dibantu oleh UNESCO pada tahun 1973 - 1983. Semenjak pemugaran kedua itu, Candi Borobudur dibuka sebagai objek dan tujuan wisata. Selain untuk pariwisata, Candi Borobudur dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, edukasi, kegamaan, sosial, dan budaya.

"Seiring berjalannya pemanfaatan Candi Borobudur sebagai ikon wisata di Indonesia, menjadikan jumlah kunjungan terus meningkat dari tahun ke tahun sampai menembus angka 4.000.000 juta per tahun. Pada saat peak season bahkan mencapai 58.000 orang/hari, dan kisaran 4.000-7.000 orang/jam menaiki struktur Candi Borobudur," katanya.

Kunjungan wisatawan yang cukup besar, lanjut dia, juga membawa dampak negatif, utamanya bagi kelestarian struktur Candi Borobudur. Jika terjadi kerusakan pada bangunan cagar budaya maka tidak akan pernah bisa diperbaharui lagi dan tidak bisa kembali seperti semula atau tidak bisa tergantikan. Keberadaan Candi Borobudur sebagai monumen terbuka sangat rentan terhadap pengaruh iklim yang dapat menyebabkan kerusakan.

"Tingginya jumlah pengunjung yang naik ke atas struktur candi sangat berpengaruh terhadap laju kerusakan. Selain rentan terhadap pengaruh iklim mikro, Candi Borobudur juga rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh kunjungan wisata," katanya.

Sementara itu gesekan alas kaki pengunjung dan pasir yang terbawa kaki dapat mengakibatkan lantai tangga/selasar/undag/teras candi menjadi aus. Berdasarkan kajian, analisa keausan batu lantai Candi Borobudur, apabila berat rata-rata pengunjung 60 kg, dan gaya gesek pada saat seorang pengunjung menginjakkan kaki  : 4,19 x 10-10 m. Jika pengunjung yang datang pada periode 1984 - 2007 adalah  43.328.414 orang. Maka keausan pada lantai Candi Borobudur adalah (4,19 x 10-10 m) x 43.328.414 = ±  1,8 cm.

"Ada kenaikan laju keausan sebesar 0,3 cm setelah tahun 2003, dimana laju keausan saat itu 1,5 cm. Sehingga laju keausan per tahun sama dengan sekitar  0,042 cm," katanya.

Karena itu, Balai Konservasi Borobudur berinisiatif membatasi kunjungan ke Candi Borobudur hanya sampai pada lantai 8. Sedangkan lantai 9 dan 10 ditutup untuk kunjungan umum, sunrise maupun sunset, dimulai 13 Februari 2020. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT