13 February 2020, 13:53 WIB

Keberadaan Turis Tiongkok Positif Korona Selama di Bali Dilacak


Arnoldus Dhae | Nusantara

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Bali, melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali, bersama seluruh stakeholder terkait saat ini sedang melacak kemana saja salah satu turis asal Tiongkok yang diduga sudah positif cirus korona setelah kembali dari berlibur di Bali.

Kepala Dinas Kesehatan Bali Ketut Suarjaya menjelaskan sangat tidak mungkin turis yang bersangkutan sudah positif selama berada di Bali.

"Namun, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,  kami saat ini sedang melacak bersama lembaga terkait, dimana saja turis yang diduga positif itu berada, tinggal dimana saja, pergi kemana saja. Kami tidak perlu menyebutkan namanya karena ini masih rahasia. Tujuan pelacakan tersebut penting untuk mengetahui jejak penyebaran virus kalau itu benar-benar ada, untuk memudahkan penanganan," ujarnya di Denpasar, Kamis (13/2).

Namun, Suarjaya tetap optimis Bali masih negatif virus korona sebab seluruh wisatawan sejak tiba di Bandara Ngurah Rai telah dicek secara ketat.

Baca juga: Beijing Kirim Tambahan 2.600 Personel Medis ke Wuhan

Kemudian, secara logika medis pun agak aneh bila saat berada di Bali turis yang bersangkutan sudah positif virus korona.

Sebab, bila dia sudah positif maka dengan mempertimbangkan masa inkubasi mulai 3 sampai 7 hari dan diperpanjang sampai 14 hari, seharusnya yang bersangkutan sudah tepar di Bali.

"Kami tetap yakin sampai saat ini Bali masih negatif virus korona. Sebab belum ada satu pun pasien di Bali yang positif. Termasuk jejak selama turis tersebut berada di Bali juga belum ada. Sementara kalau dihitung masa inkubasi seharusnya sudah kelihatan," ujarnya.

Namun, pemerintah tetap melacaknya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Suarjaya sendiri mengaku baru mendapatkan informasi hari ini. Kemudian pihaknya sudah mendapatkan koordinasi dari pusat terkait hal ini.

"Saya barusan dapat baca infonya. Kalau kita runut dia ke Balinya sekitar 9 hari sebelum dia terpapar virus korona. Jadi kemungkinan saja dia setelah sampai di Tiongkok baru terpapar karena pada waktu itu kan memang kondisi Tiongkok sedang sedang outbreak," katanya.

Setelah dilacak, virus itu baru diketahui setelah 9 hari turis yang bersangkutan meninggalkan Bali. Artinya, turis itu terpapar setelah dia berada di Tiongkok.

"Kemungkinan kedua masa inkubasinya juga memperpanjang sampai 14 hari. Karena di Bali tidak ada kasus (virus korona). (Kemudian) 14 harinya berarti apakah dia selama di Bali masih membawa virus, harapan kita tidak karena hitungan-hitungannya 14 harinya dimana kenanya di Bali, sedangkan di Bali tidak ada kasus," jelasnya.

Seperti diketahui, seorang warga Tiongkok dinyatakan positif terkena virus korona oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Kota Huainan, Provinsi Anhui, Rabu (5/2).

Menurut akun resmi Pemerintah Provinsi Anhui di laman Weibo, pasien itu sebelumnya sempat berkunjung ke Bali akhir Januari lalu.

Dalam keterangan di laman tersebut, ia terbang ke Bali dari Wuhan menggunakan maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-2618 pada 22 Januari. Setelah sepekan, warga Tiongkok itu lalu terbang ke Shanghai menggunakan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-858 pada 28 Januari.

Begitu sampai di Shanghai, ia sempat menginap di hotel Bandara Pudong dan pergi ke Stasiun Selatan Nanjing keesokan harinya untuk menuju Huainan menggunakan kereta bernomor seri G1814 dan G2809.

Delapan hari kemudian, warga Tiongkok itu dinyatakan positif terjangkit virus corona oleh CDC Kota Huainan. (OL-1)

BERITA TERKAIT