13 February 2020, 08:05 WIB

Maskapai Kehilangan 2,7 Juta Penumpang


Indriyani Astuti | Ekonomi

KEBIJAKAN pemerintah memberlakukan penundaan perjalanan dari dan menuju Tiongkok akibat wabah virus korona berdampak signifikan pada menurunnya jumlah penumpang maskapai penerbangan.

Staf Ahli Kementerian Perhubungan Adita Irawan mengatakan, potensi kapasitas kursi pesawat yang tidak terpenuhi akibat penundaan tersebut mencapai 2,7 juta penumpang.

"Sampai Maret 2020, potensi kapasitas penumpang yang tidak terpenuhi akibat penundaan ini sebanyak 2,7 juta penumpang keluar-masuk Indonesia," ucapnya dalam konferensi pers terkait virus korona di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Sejak 5 Februari 2020, Kementerian Perhubungan resmi memberlakukan penundaaan sementara perjalanan dari dan menuju dataran Tiongkok kecuali Hong Kong, Taipei, dan Makau.

Adita menyampaikan, atas kebijakan tersebut, semua maskapai baik domestik maupun internasional langsung menjalankannya. Dampak dari penundaan sementara itu terhentinya 26 rute penerbangan yang melayani penumpang dari dan menuju Tiongkok. Maskapai yang melayani rute tersebut, yaitu Garuda Indonesia, Batik Airlines, Citilink, Sriwijaya, dan Lion Air.

Guna mengantisipasi dampak tersebut, imbuhnya, Kementerian Perhubungan mendorong maskapai nasional untuk menciptakan permintaan (demand) baru, misalnya ke negara-negara di Asia Barat, seperti India, Nepal, Pakistan, Turki, dan Australia.

"Karena porsi penumpang ke dataran Tiongkok cukup besar, kita alihkan meskipun trafiknya belum setinggi Tiongkok," tutur Adita.

Kementerian Perhubungan juga meminta maskapai penerbangan mengambil pasar wisatawan dalam negeri. Maskapai diimbau memberikan paket menarik pada wisatawan domestik.

Adita mencontohkan strategi jitu yang diambil Garuda Indonesia dengan memberi potongan harga hingga 30% untuk tiga tujuan penerbangan yang biasa dikunjungi turis-turis dari Tiongkok, yaitu Manado, Bali, dan Kepulauan Riau.

260 flight terdampak

Dari Badung, Bali, Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, mengatakan sebanyak 260 flight dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ke Tiongkok sudah berhenti sejak 5 Februari lalu.

"Berdasarkan schedule regular dan irregular, tercatat ada 260 flight keberangkatan dan kedatangan sejak 5-12 Februari yang tidak beroperasi melayani rute itu dari/ke Tiongkok dalam keadaan full operates," papar Arie, kemarin.

Ia mengatakan, dari jumlah tersebut, pihaknya memprediksi ada 31 ribu pergerakan penumpang pada 260 penerbangan pesawat rute Bali-Tiongkok, dan sebaliknya yang tak beroperasi tersebut.

"Jika diperkirakan riil berdasarkan tiap jenis pesawat per maskapai penerbangan, dengan pendekatan 60% tingkat keterisian penumpang atau load factor, kami prediksi ada sekitar 31 ribu penumpang," kata Arie.

Sebagai langkah antisipasi penyebaran virus korona, ia menjelaskan para petugas operasional Bandara Ngurah Rai masih menggunakan alat pelindung diri yang telah memenuhi standar medis. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT