13 February 2020, 07:50 WIB

Kekisruhan PAN Perburuk Citra Parpol di Mata Publik


Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum

CITRA buruk partai politik di Indonesia sudah ada sejak 10 tahun terakhir, dan kekisruhan yang terjadi di Kongres V Partai Amanat Nasional (PAN) memperjelas bobroknya partai politik Indonesia di mata publik.

"Kalau kita lihat dari hasil survei terkait penilaian publik pada lembaga negara atau aktor politik parpol, itu menempati posisi yang selalu hampir paling rendah," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di Jakarta, kemarin.

Penilaian buruk itu, lanjutnya, terjadi akibat berbagai hal yang dilakukan partai politik, dari korupsi, politik dinasti, hingga kinerja buruk di parlemen.

"Kisruh PAN memperlihatkan ketika perebutan kekuasaan mereka bisa menunjukkan watak aslinya seperti itu. Bahwa pada kondisi tertentu mereka menunjukkan aksi kekanak-kanakannya. Jadi seperti preman politik," tambah Yunarto.

Menurutnya, kericuhan di Kongres PAN dapat dikatakan sebagai tamparan bagi partai itu, khususnya Amien Rais. Hal tersebut mengingat klaim Amien Rais bahwa ia merupakan tokoh reformasi dan PAN sebagai pelopor reformasi.

"Buat saya, apa yang ditunjukkan kemarin sangat memalukan. Kisruh itu juga merupakan bukti nyata kegagalan Amien Rais. Sebagai tokoh senior PAN, ia tidak bisa membangun partai yang dewasa dalam berdemokrasi," ujar Yunarto.

Di lain pihak, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengatakan kekisruhan Kongres PAN sebagai hal negatif dan tidak seharusnya dipertontonkan.

Kericuhan di Kendari, Sulawesi Tenggara, itu seharusnya tidak lagi terjadi di partai seperti PAN karena mereka telah memiliki sejarah cukup panjang dalam proses reformasi, khususnya dengan keberadaan Amien Rais.

"Meski demikian, kekisruhan kongres tersebut tidak akan berpengaruh besar pada pandangan publik ke PAN atau partai politik secara umum sebab memang citra parpol itu sudah tidak baik. Persepsi masyarakat pada parpol itu cenderung negatif," tambahnya.

Ia mengatakan hal-hal seperti kekisruhan PAN juga bukan baru pertama kali terjadi. Sebelumnya hal serupa juga pernah terjadi, salah satunya di DPR.

"Jadi, itu memperkuat saja persepsi negatif yang selama ini cenderung ada pada partai-partai politik," ujar Djayadi.

Partai dengan tokoh yang kuat seperti PAN seharusnya memiliki metode penyelesaian masalah lebih dewasa. Kekisruhan di kongres partai berlambang matahari itu menunjukkan ada mekanisme yang tidak berjalan dengan baik di tubuh PAN.

"Untungnya kejadian itu tidak berlanjut dan berakhir dengan damai. Akan tetapi, ya secara umum jadi menambah kejadian-kejadian yang secara negatif dilekatkan ke partai politik," pungkasnya. (Pro/X-7)

BERITA TERKAIT