12 February 2020, 18:30 WIB

Indonesia Rugi Hingga Rp150T Akibat Polusi Udara


Galih Agus Saputra | Weekend

PENELITIAN terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Greenpeace Asia Tenggara menunjukan bahwa dewasa ini kiranya rata-rata ada 40.000 balita di dunia yang meninggal karena polusi udara. Lebih lanjut, polusi tersebut berhubungan dengan paparan partkel padat atau acir di udara atau disebut particulate matter (PM) 2.5 yang keluar dari bahan bakar fosil.

Daratan Cina, Amerika Serikat, dan India ialah bagian yang menanggung kerugian tertinggi dari polusi tersebut. Masing-masing diperkirakan menanggung kerugian 900 miliar USD, 600 miliar USD, dan 150 miliar USD pertahun.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menuturkan bahwa Indonesia sendiri mengalami kerugiaan paling besar ketimbang beberapa negara lainnya di Asia Tenggara. Estimasi biaya kerugian tersebut mencapai 11 miliar USD per tahun, atau sekitar Rp150 triliun. Angka jauh lebih besar dari Vietnam yaitu 6.8 miliar USD per tahun, maupun Malaysia yang hanya mencapai 4.5 miliar USD per tahun.

Lebih lanjut, Andriyanu menjelaskan bahwa polusi udara sebagaian besar disebabkan oleh bahan bakar fosil. "Maka dari itu, kalau sudah seperti ini kita harus melakukan sesuatu yang revolusioner, yang harus dilakukan segera. Salah satunya ya dengan transisi energi yang tidak bisa menunggu lagi," imbuhnya, dalam bincang Kerugian Ekonomi Akibat Polusi Udara, di Restoran Tjikini Lima, Jakarta, Rabu (12/2).

Sebelumnya, Andriyanu juga menjelaskan bahwa sepanjang 2018 hingga 2020, wilayah Jakarta Pusat secara khusus tidak banyak memiliki hari dengan kualitas udara yang baik. Air Monitoring Kedutaan Besar Amerika Serikat, katanya, menunjukan bahwa Jakarta Pusat hanya memiliki kualitas udara baik sebanyak 23 hari pada 2018. Pada 2019 kualitas udara baik hanya sebanyak 10 hari, sementara pada 2020, atau sejauh berita ini terbit, kualitas udara baik hanya ditemui pada 11 Januari.

Sebagai pembanding, wilayah Jakarta Selatan pada 2018 memiliki kualitas udara baik sebanyak 11 hari. Pada 2019, kualitas udara baik sebanyak 9 hari, dan pada 2020 belum ada indikasi yang menunjukan kualitas udara baik. Adapun indikator baik dan buruknya kualitas udara tersebut ditentukan berdasarkan PM2.5 ug (unhealthy for sensitive groups) per m3, dengan skala skala 0.0 hingga 500.4.

Direktur Pusat Penelitian Perubahan Iklim, Universitas Indonesia, Budi Haryanto sebelumnya turut menjelaskan bahwa dimanapun wilayahnya, baik di negara berkembang atau maju, persoalan perubahan iklim selalu berdampak pada kesehatan atau lebih tepatnya mencapai 60%.

Sumbernya juga bermacam-macam, mulai dari CO yang keluar dari asap kendaraan bermotor, atau PM10 dan PM2.5 dari kegiatan konstruksi, pabrik, dan kebakaran, serta Pb yang berasal dari BBM atau produk bertimbal. 

Adapun populasi yang paling rentan terhadap semua itu, lanjutnya, ialah anak-anak, lansia, penderita penyakit paru dan jantung, perokok, pesepeda atau penggemar aktivitas luar ruangan, dan pekerja di sumber polutan.

"Perokok terpapar dua kali baik dari rokok dan dari luar. Polisi Lalu Lintas juga cukup memprihatinkan, karena dalam sehari mereka terpapar polusi rata-rata enam jam. Padahal satu jam saja sudah berbahaya," tuturnya. (M-1)

BERITA TERKAIT