12 February 2020, 14:00 WIB

Arkeolog akan Teliti Temuan Patung di Tasikmalaya


Kristiadi | Nusantara

PENGELOLA kawasan obyek wisata Batu Mahpar bersama warga Kampung tegal Munding, Kabupaten Tasikmalaya, masih terus melakukan penggalian guna memastikan masih ada atau tidaknya batu yang diduga artefak dengan wujud ganesha, manusia kerdil, monyet hingga janin bayi.

Seorang arkeolog dari Balai Arkeologi Jawa Barat, Lutfi Yondri, mengatakan, patung ganesha, manusia kerdil dan batu lain di kawasan objek wisata batu Mahpar dinilai memiliki beberapa kejanggalan, Sekilas, patung tersebut tampak terbuat dati batu cadas atau batu pasir yang sangat mudah diubah bentuknya.

"Untuk mengetahui nilai sejarah sebuah benda harus dilihat langsung dari bahan dan bentuk benda, tetapi jika melihat patung tersebut sepertinya terbuat dari batu cadas atau batu pasir yang sangat mudah untuk diubah bentuknya. Kamitetap akan memastikan temuan dengan datang ke lokasi untuk diteliti lebih lanjut, tapi kalau dilihat dari bahan, mudah sekali diubah bentuknya," kata Lutfi, Rabu (12/2).

Baca juga: Puluhan Patung Diduga Artefak Ditemukan di Tasikmalaya

Lutfi menyebut puluhan patung kuno yang ditemukan di kawasan obyek wisata Batu Mahpar tak sesuai dengan fakta sejarah, terutama pakem arkeologi selama ini. Namun, benda ini cukup menarik, dari jenis-jenis patung yang ada diketahui jelas berbeda zaman jika dikaitkan ilmu arkeologi.

"Dalam masanya, kedua patung jenis manusia dan ganesha memiliki fungsi yang berbeda pada masing-masing zaman. Patung manusia seperti itu digunakan untuk pemujaan arwah leluhur dan patung ganesha untuk pemujaan masa agama Hindu. Jika ditemukan dalam satu lokasi yang berdekatan, jelas ini terjadi sebuah kesalahan baik dalam waktu maupun masa budaya," ujarnya.

Menurutnya, temuan patung kuno di kawasan objek wisata Batu Mahpar dibuat untuk kepentingan pariwisata dan bukan benda lama. Meskipun sesuai ilmu arkeologi pada sejarah sunda, terdapat peninggalan patung, tapi tidak sesuai dengan ciri-ciri yang dipaparkan, lokasi temuannya pun dekat dengan Gunung Galunggung yang dulu merupakan bagian dari sejarah peradaban sunda.

"Jika dikaitkan dengan sejarah kerajaan Sunda dan Galuh juga peninggalannya, tidak sama," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT