12 February 2020, 10:00 WIB

Ditemukan Jutaan Transaksi Investasi Saham ke Jiwasraya


Kautsar Bobi | Politik dan Hukum

KEJAKSAAN Agung terus mendalami kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya. Hasil penyelidikan mendapatkan jutaan transaksi investasi saham yang mengalir ke perusahaan asuransi plat merah itu.

Direktur Penyidikan JAMPidsus Febrie Ardiansyah mengatakan jumlah transaksi tersebut merupakan akumulasi dari 2008 hingga 2018. Kurun waktu tersebut ditengarai terdapat transaksi yang melawan hukum.

"Sebelumnya pernyataan penyidik 55 ribu (transaksi) sekarang sudah jutaan transaksi, ini didalami. Bayangkan itu, kerja keras penyidik," ujar Febrie di Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Selasa (11/2).

Baca juga: Penyidik Kejagung Kerja Keras Telaah Jutaan Transaksi Jiwasraya

Kendati demikian, penyidik tidak mendalami seluruh transaksi tersebut, hanya fokus pada transaksi yang mencurigakan. Sehingga, berkas perkara dari para tersangka rasuah ini dapat segera rampung.

"Konsen penyelesaian berkas (tersangka) karena sudah dilakukan penahanan. Ketika selesai, akan dievaluasi, siapa yang ikut bertanggung jawab," imbuhnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung masih menelusuri 55 ribu transaksi keuangan PT Asuransi Jiwasraya. Penggalian informasi itu dinilai tidak mudah.

"Masih diteliti. Bayangkan ada 55 ribu transaksi, ini baru empat hari," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setyono di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta Selatan, 20 Januari.

Hari meminta kesabaran seluruh pihak untuk mengetahui hasilnya.

"Kalau sehari (melacak) tiga ribu (transaksi) saja, sudah berapa?" ujarnya.

Kejagung menetapkan enam tersangka terkait kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Mereka yakni Komisaris PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk, Heru Hidayat; dan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim.

Selanjutnya, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya, Syahmirwan; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo; dan Direktur Utama PT Maxima Integra Joko Hartoni Tirto. Teranyar, Benny dan Heru ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang.

Mereka dijerat Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (OL-1)

BERITA TERKAIT