12 February 2020, 01:18 WIB

WHO Namakan Virus Korona Baru COVID-19


Ghani Nurcahyadi | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menamakan virus korona baru yang berkembang di Wuhan, Tiongkok dengan COVID-19. Virus itu dikatakan WHO menjadi ancaman serius, tapi ada kesempatan yang nyata untuk menghentikan penyebarannya.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan, COVID-19 diambil dari kata "Co" yang berarti korona (corona), lalu "Vi" yaitu virus, dan "D" yang berarti disease atau penyakit. Sedangkan angka 19 menandakan tahun merebaknya virus korona itu, yaitu 31 Desember 2019.

"Sekarang kita punya nama resmi untuk penyakit ini, yaitu COVID-19" kata Tedros di Markas WHO di Jenewa, Swiss.

Tedros menegaskan, nama itu sengaja diberikan agar menghindari stigma dari sisi geografis, binatang, maupun etnisitas yang terkait virus korona baru itu.

Sebelumnya, WHO menyebut virus korona yang kini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menginfeksi lebih dari 43.000 orang di lebih dari 2 lusin negara tersebut dengan 2019-nCoV, Sedangkan Tiongkok menyebutnya dengan novel coronavirus pneumonia.

Baca juga : Indonesia Awasi Ketat Orang yang Masuk dari Singapura

Dalam aturan baru terkait penamaan penyakit, WHO memang melarang penamaan berdasarkan letak geografis, seperti Ebola dan Zika yang sebelumnya dinamakan berdasarkan tempat pertama merebaknya penyakit tersebut.

Penamaan berdasarkan etnisitas seperti MERS yang merujuk pada wilayah Timur Tengah juga dilarang. Termasuk juga penamaan berdasarkan nama binatang penularnya. Dampak hal itu terlihat saat flu babi (swine flu/H1N1) merebak yang kemudian berimbas pada industri pengolahan daging babi.

Penamaan menggunakan nama penemu penyakit juga dilarang.

Penamaan virus korona baru itu juga sekaligus jadi salah satu agenda pertemuan sekitar 400 ilmuwan dari seluruh dunia yang berkumpul di Jenewa dalam pertemuan selama 2 hari untuk membahas soal penyebaran dan upaya penemuan vaksin COVID-19.

"Virus bisa lebih berbahaya dari serangan teroris. Tapi kita bukan tanpa pertahanan. Jika kita memulai segera sekarang, kita punya kesempatan nyata menghentikan penyebarannya," ujar Tedros.

Baca juga : Kemenkes: 78 WNI di Kapal Pesiar Jepang Negatif Virus Korona

WHO diketahui telah mengirimkan tim ahli ke Tiongkok untuk meneliti secara dekat COVID-19. Namun, tim tersebut masih menunggu izin pemerintah Tiongkok untuk bisa masuk ke Wuhan yang kini diisolasi.

Di sisi lain, upaya menemukan vaksin virus korona terus berlanjut dan melibatkan ilmuwan lintas negara yang diorkestrasi oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), badan yang dibentuk pada 2017 untuk mendanai riset bioteknologi melawan Ebola.

Ilmuwan kini berlomba dengan waktu untuk menemukan virus korona sebelum virus itu mati dengan sendirinya atau melemah sebelum vaksinnya ditemukan, seperti saat SARS yang juga disebabkan stain lain virus korona, melemah dengan sendirinya pada 2003. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT