12 February 2020, 02:15 WIB

Semen Indonesia Rebranding Jadi Semen Indonesia Group


MI | Ekonomi

PT Semen Indonesia Tbk (persero) ­melakukan rebranding atau perubahan identitas perusahaan menjadi Semen Indonesia Group (SIG) sekaligus memperkenalkan logo baru ­seiring dengan transformasi perusahaan dari ­pabrikan semen menjadi penyedia produk dan jasa material bangunan.

Direktur Utama Semen Indonesia Group Hendi Prio Santoso mengatakan penggantian logo itu bagian dari transformasi perseroan untuk membangun kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. Perseroan fokus mengembangkan inovasi untuk menjawab tantangan yang ada di bidang bahan bangunan (building material) dan memberikan solusi kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).

“Semen Indonesia kini telah berevolusi, dari perusahaan persemenan menjadi perusahaan penyedia solusi bahan bangunan. Perseroan ingin menjadi yang terdepan dalam memberikan solusi bahan bangunan yang inovatif, terbaru, dan bernilai tambah di kancah regional,” ungkap Hendi dalam sambutannya di Jakarta, kemarin.

Menurut Hendi, solusi yang ditawarkan perseroan tak hanya untuk memenuhi ­harapan stakeholder, tapi juga jadi pendorong dalam tumbuhnya industri bahan bangunan yang memperhatikan keberlanjutan. Hal itu dilakukan dengan menerapkan inovasi yang ramah lingkungan.

“Kami mampu menjadi pionir dalam industri building material yang memberdayakan stakeholder dalam menciptakan sustainable living di masa depan. Tak hanya nilai ekonomi yang diutamakan, tapi juga soal lingkungan dan sosial,” imbuhnya.

Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia, Sigit Wahono, menambahkan bahwa transformasi bisnis SIG dilakukan untuk menjawab kebutuhan konsumen yang kian berkembang. Selain telah mengembangkan cara beroperasi yang ramah Iingkungan, SIG berkomitmen dalam mengembangkan inovasi baru berbasis teknologi untuk lebih dekat dengan konsumen.

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menyampaikan saat ini perusahaan BUMN dituntut selalu mengantisipasi perubahan yang cepat. Perusahaan harus beradaptasi terhadap adanya perubahan yang dapat menyebabkan banyak bisnis mati dan di satu sisi muncul bisnis yang lain. (Van/E-3)

BERITA TERKAIT