11 February 2020, 12:52 WIB

Kemenkes Prediksi Penanganan Virus Korona Lebih dari 6 Bulan


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

SEKRETARIS Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto mengatakan tren positif virus korona terus meningkat sehingga diprediksi penanganannya lebih dari 6 bulan berdasarkan target awal.

"Artinya bukan jumlah pasien tetapi penambahan jumlah positif per hari, penambahan jumlah confirm (yang tertular) per hari itu masih belum menunjukkan pola penurunan. Masih begitu-begitu saja (tinggi)," kata Yuri di Gedung Kemenkes RI, Jakarta Selatan, Selasa (11/2).

Perkiraan itu berdasarkan pembicaraan dengan Organisasi Kesehatan PBB, WHO. Menurutnya, dalam pembahasan itu, diprediksi penanganan bisa melebihi 6 bulan apalagi otoritas kesehatan sedang mengamati perilaku virus tersebut.

"Setelah diskusi dengan teman-teman WHO, mereka pesimistis enam bulan (bisa) selesai (wabah). Data sekarang belum menunjukkan tren ke situ, jadinya bingung, kira-kira kapan selesainya," ujarnya.

Oleh karena itu, proses yang dilakukan sudah tepat dengan melakukan isolasi di wilayah Hubei untuk meminimalisir penyebaran. Angka kematian di kawasan tersebut mencapai 97%, di luar area itu 3% dan luar negeri hanya 1 kasus di Filipina

"Tindakan-tindakan epidemologi sudah benar. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana perilaku penyakitnya ini. Oleh karena itu belum bisa melihat trennya ya kapan, Sehingga dalam diskusi (dengan WHO) kemarin bisa lebih dari enam bulan," paparnya.

Baca juga: Kemenkes Tegaskan Indonesia Siap Hadapi Virus Korona

Dia menegaskan, virus korona memang berasal dari habitatnya di Wuhan sehingga hanya bisa beradaptasi dengan suhu dan cuaca di sana. Artinya, kemungkinan kecil bisa berkembang di luar wilayah dengan kondisi berbeda.

"Ini kayaknya susah deh, kecuali kontak dekat. Sekarang ini jika sudah mulai membatasi biarlah masalah hanya di situ untuk diisolasi kemudian jika rantai pemutusan makin masif dilakukan tentunya tidak ada penularan berikutnya," tuturnya.

Meskipun demikian, ketidakpastian waktu itu menimbulkan kekhawatiran bagi mahasiswa Indonesia yang tengah menjalani observasi di Natuna.

"Yang dikhawatirkan teman-teman mahasiswa adalah kuliah mereka bisa molor lebih dari satu semester," lanjutnya.

Diketahui, sejak Senin (10/2), sejumlah kelompok mahasiswa telah menjalani perkuliahan secara daring. Namun, sebagian mahasiswa kedokteran tidak bisa melakukan praktikum.

"Ada 10 orang mahasiswa yang saat ini sedang kuliah semester delapan. Seharusnya mereka praktik kedokteran. Mereka mulai khawatir Kota Wuhan masih akan tetep lock down sampai satu semester. Apakah bisa kembali lagi untuk kuliah atau tidak?" pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT