10 February 2020, 18:20 WIB

K3S Untung Besar, Kenapa PGN yang Dipaksa Merugi?


mediaindonesia.com | Ekonomi

MANTAN Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir mempertanyakan apakah keputusan pemerintah untuk menurunkan harga gas industri di hilir sebuah langkah yang tepat.

Mantan anggotan DPR RI periode 2004-2019 tersebut memberikan data soal harga gas regional hulu di mulut sumur (wellhead).

“Data yang saya miliki, harga gas regional di wellhead misalnya untuk wilayah Jawa Barat sudah di kisaran US$5,5-US$ 6,99 per MMBTU,” kata dia di Jakarta, Senin (10/2).

Kemudian, imbuh Inas, rincian harga gas regional lainnya adalah, Cirebon US$6,7-US$ 6,96 per MMBTU, Batam US$5,63-US$ 6,37 per MMBTU, Pekanbaru US$7,95-US$8,42 per MMBTU, Dumai US$6,54-US$7,50 per MMBTU, Medan US$7,51-US$ 8,78 per MMBTU, dan Jawa Timur US$7,32-US$7,44 per MMBTU.

“Dari data harga di atas sudah sangat terang benderang bahwa kontraktor kontrak kerja sama (K3S) yang mengeruk keuntungan paling besar. Padahal, para K3S itu sudah menikmati cost recovery, yakni semua biaya operasional kontraktor diganti oleh negara,” ungkap dia.

Inas menjelaskan, oleh karena itu berdasarkan angka cost recovery, terkait realisasi lifting gas, sudah seharusnya pemerintah melalui SKK Migas bisa menghitung harga keekonomian gas di hulu untuk kemudian dinegosiasikan kembali dengan para K3S tersebut, 

“Bahkan pemerintah seharusnya bisa meminta K3S tersebut transparan dalam menghitung harga gas di wellhead. Jadi kenapa harus PT PGN (Perusahaan Gas Negara) Tbk yang harus dipaksa rugi dengan menurunkan harga gas di hilir?” tegas dia. (OL-09)

BERITA TERKAIT