11 February 2020, 01:00 WIB

Serangan Rezim Suriah Tewaskan 17 Warga Sipil


AFP/AA/Hym/I-1 | Internasional

SERANGAN mematikan, Minggu (9/2), oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menewaskan sedikitnya 17 orang. Organisasi bantuan sipil White Helmets mengatakan area di dekat pusat kota dan Idlib menjadi sasaran.

Laporan terpisah mengatakan korban yang tewas oleh serangan rezim Suriah termasuk sembilan di Desa Kar Nuran di Provinsi Aleppo barat daya, dekat bentangan terakhir jalan tol M5 yang masih di tangan pemberontak.

Serangan udara Suriah dengan bom barel juga menewaskan empat warga sipil di Distrik Atareb di timur Aleppo. Adapun yang lain tewas dalam tembakan artileri di dekat Kota Jisr Al-Shughur.

Warga sipil terakhir tewas dalam serangan udara rezim di Desa Ketian di Idlib selatan, menurut kelompok pemantau perang Syrian Observatory for Human Rights.

Sejak Desember, pasukan pemerintah yang didukung Rusia telah melakukan serangan berat terhadap Idlib, benteng oposisi utama terakhir Suriah, merebut kembali kota demi kota.

Eskalasi militer telah menewaskan lebih dari 300 warga sipil dan mendorong sekitar 586.000 melarikan diri ke tempat yang relatif aman di dekat perbatasan Turki.

Sekitar 3 juta orang kini terjebak di wilayah Idlib, sekitar setengahnya telah melarikan diri ke bagian lain negara itu.

PBB dan kelompok-kelompok bantuan telah mengeluarkan seruan untuk mengakhiri baku tembak di wilayah Idlib, memperingatkan eksodus berisiko menciptakan salah satu bencana kemanusiaan terburuk dari perang hampir sembilan tahun.

Rezim pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, melancarkan serangan sengit selama berminggu-minggu untuk menguasai kembali jalan tol M5 yang menghubungkan Aleppo ke Damaskus dan perbatasan Yordania.

Kekerasan menewaskan lebih dari 350 warga sipil dan membuat 586.000 orang melarikan diri ke tempat yang relatif aman di dekat perbatasan Turki. PBB dan kelompok-kelompok bantuan mengajukan permohonan untuk mengakhiri permusuhan, memperingatkan bahwa eksodus berisiko menciptakan bencana kemanusiaan terburuk. (AFP/AA/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT