10 February 2020, 20:30 WIB

Tes Darah Kini Dapat Digunakan Untuk Mendiagnosis Gejala Kebutaan


Bagus Pradana | Weekend

TEROBOSAN tes darah dikembangkan oleh para peneliti dari Universitas Manchester yang sedang gencar mengkaji penelitian teranyarnya tentang degenerasi makula seperti dilansir oleh dailymail.co.uk (10/2).

Penelitian ini melibatkan sejumlah 1.000 pasien mata di Inggris yang menderita degradasi makula. Satu per satu diantara mereka dipantau kadar FHR-4-nya melalui tes darah secara berkala, pemantauan rutin tersebut dilakukan selama jangka waktu yang ditentukan untuk melihat korelasi antara kadar FHR-4 dengan perkembangan kesehatan matanya.

Dari hasil pemantauan tersebut diketahui bahwa tinggi rendahnya kadar FHR-4  dalam tubuh ternyata cukup berkorelasi dengan kesehatan mata.

Degenerasi Makula adalah kondisi mata kronis yang menyebabkan seseorang kehilangan penglihatan akibat terjadinya kerusakan di makula yang berada di bagian tengah retina.

Kasus degenerasi makula ini merupakan penyebab kebutaan paling umum yang terjadi di berbagai belahan dunia. Bertambahnya usia menjadi faktor utama dari kasus degenerasi makula ini.

Biasanya pasien dengan degenerasi makula akan memiliki kadar protein FHR-4 yang sangat tinggi. Kadar protein inilah yang terbaca dalam tes darah yang dilakukan oleh para ilmuan dari Universitas Manchester.

Prof. Paul Bishop selaku inisiator dari penelitian ini meyakini bahwa melalui pengukuran tekanan FHR-4 pada tekanan darah dimungkinkan untuk memprediksi resiko penyakit apa saja yang potensial menyerang pasien dengan cara yang lebih hemat dan tepat.

"Kita dapat memprediksi risiko penyakit dengan hanya mengukur kadar FHR-4 dalam darah. Temuan mekanisme tes ini juga dapat menjadi alternatif baru untuk pengobatan degenerasi makula yaitu dengan mengembalikan kadar aman FHR-4 dalam darah untuk mengembalikan fungsi sistem kekebalan di mata."

Degenerasi makula (AMD) biasanya memengaruhi kedua mata, tetapi kecepatan perkembangannya bisa bervariasi di antara kedua mata. Perkembangan penyakit ini diperkirakan dipicu oleh penuaan, merokok, dan genetika.

Penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, dan menawarkan harapan baru bagi para penderita degenerasi makula untuk mengambil tindakan pencegahan secara lebih cepat.

BERITA TERKAIT