10 February 2020, 18:51 WIB

Harvard Sebut Korona Masuk Indonesia, Kemenkes: Hanya Prediksi


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) angkat bicara mengenai riset peneliti Harvard Marc Lipsitch, yang menyebut virus korona kemungkinan sudah masuk ke Indonesia. Kepala Balitbang Kemenkes, Siswanto, menyatakan hingga saat ini belum ada kasus positif virus korona di Indonesia.

"Tentang penelitian Harvard saya sudah baca. Pada dasarnya penelitian Harvard itu adalah model matematika untuk memprediksi. Sekali lagi kan memprediksi, bisa terjadi bisa tidak, namanya saja memprediksi," kata Siswanto di Kantor Staf Presiden (KSP), Senin (10/2).

Menurut Siswanto, studi tersebut sebatas memprediksi dinamika penyebaran virus korona dengan salah satu variabel lalu lintas warga dari dan ke Tiongkok. Berdasarkan penelitian Harvard tersebut, lanjut dia, di Indonesia seharusnya ada enam kasus korona. Namun, hingga kini belum ditemukan kasus positif virus mematikan tersebut.

Baca juga: Singapura Tetapkan Status Siaga Virus Korona

Kemensos telah menguji total 62 spesimen dari orang-orang suspek korona di Indonesia. Puluhan kasus suspek korona itu tersebar di 16 provinsi, yakni DKI Jakarta sebanyak 14, Bali sebanyak 11, Jawa Tengah sebanyak 7, Jawa Barat sebanyak 6, Jawa Timur sebanyak 5, Banten sebanyak 4, Sulawesi Utara sebanyak 4, Yogyakarta sebanyak 2, Kalimantan Timur sebanyak 2, Jambi sebanyak 1, Papua Barat sebanyak 1, NTB sebanyak 1, Kepulauan Riau sebanyak 1, Bengkulu sebanyak 1, Kalimantan Barat sebanyak 1, dan Sulawesi Utara sebanyak 1. Hasilnya, 59 di antaranya negatif dan 3 lainnya masih dalam tahap uji laboratorium.

"Artinya, kalau dengan pemodelan itu harusnya ada enam kasus kemudian gak ada, ya menurut saya kita bersyukur jangan dipaksa-paksa. Kita sudah teliti dengan benar (uji spesimen) dan penelitian Harvard itu hanya prediksi saja dengan model matematis," pungkasnya.

Siswanto menambahkan hingga kini belum ada obat khusus untuk virus korona yang terbukti ampuh dan mendapat rekomendasi WHO. Perawatan terhadap pasien terjangkit korona hanya melalui pengobatan yang sifatnya penyokong (supporting).

"Sampai saat ini terapi korona itu baru supporting, belum ada obat yang khusus. Kalau pasien panas dikasih obat panas, kalau ada infeksi sekunder oleh bakteri dikasih antibiotik. Di media massa disebutkan ada uji coba dengan obat HIV, tapi sebenarnya belum proven dan belum dianjurkan oleh WHO," tandas dia.(OL-11)

 

 

 

BERITA TERKAIT