10 February 2020, 17:41 WIB

Ribuan Warga Medan Unjuk Rasa #Savebabi


Yoseph Pencawan | Nusantara

RIBUAN warga berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Sumatera Utara, Senin (10/2) akibat rencana Pemprov Sumut ingin memusnahkan peternakan babi.

Bentangan spanduk-spanduk panjang berisi pernyataan penolakan pemusnahan dan hastag #savebabi serta hingar-bingar orasi mewarnai jalannya unjuk rasa. Jalan Imam Bonjol sempat ditutup petugas polisi selama beberapa jam.

Boasa Simanjuntak, Koordinator Aksi #savebabi mengatakan, para peternak babi, pengusaha rumah makan berbahan daging omnivora itu merasa mendapatkan perlakuan diskriminasi.

"Kita berkumpul untuk menolak tegas pembunuhan masa depan bangsa Batak. Kita menolak pemusnahan babi di Sumatera Utara," ujarnya melalui pengeras suara dari atas mobil komando aksi.

Dalam pernyataan yang disebutnya sebagai "Statment Batak", Boasa mengatakan, mereka menuntut Presiden Joko Widodo untuk segera menyelesaikan wabah virus demam babi (African Swine Fever/ASF) di Sumut. Tuntutan itu diajukan karena pemerintah telah menetapkan bahwa wabah ini berstatus bencana.

Bila sudah ditetapkan sebagai bencana, maka menurutnya ada penanggulangan untuk kerugian yang dialami peternak dan pengusaha sektor terkait lainnya.

Bagi warga suku Batak yang bukan beragama Islam, tandasnya, babi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat digantikan dengan hewan lain.

"Dari lahir sampai mati, babi mengiringi kebudayaan adat Batak," katanya.

Bahkan ia meyakini babi merupakan hewan paling bersih di dunia. Dalam sehari, babi di peternakan dimandikan hingga tiga kali dalam sehari. Bila tidak, babi tidak akan tenang di kandangnya.

Menurutnya, babi adalah masa depan suku Batak karena selama ini peternak hewan itu bisa menyekolahkan anak-anak mereka.


Selain menolak pemusnahan, Boasa mengatakan mereka juga menolak restocking area atau kawasan khusus untuk peternakan babi. Bagi mereka, babi harus dibolehkan dipelihara oleh siapapun yang ingin memeliharanya.

Dalam aksinya, mereka juga mendesak pihak kepolisian untuk mengusut masuknya virus ASF ke Sumut. Boasa mengatakan tidak tertutup kemungkinan masuknya virus ASF ke Indonesia, termasuk Sumut, terjadi karena adanya konspirasi pihak-pihak tertentu.

Boasa juga menyinggung soal perizinan peternakan babi. Dia meminta jangan sampai ada diskriminasi perizinan, bila peternak babi wajib memiliki izin, maka seluruh peternak hewan lain juga harus memiliki kewajiban serupa.(OL-8)

 

BERITA TERKAIT