10 February 2020, 16:19 WIB

Direktur Bank BJB Agus Mulyana Raih Gelar Doktor dari UPI


Bayu Anggora | Ekonomi

PERKEMBANGAN teknologi finansial (financial technology atau fintech) saat ini tidak terlepas dari pengaruh perubahan global khususnya terkait inovasi keuangan. Namun, hal ini tidak diikuti oleh alat pengukur konfigurasi perkembangan tekfin di Indonesia karena masih sangat terbatas.

Hal ini diungkapkan Direktur Kepatuhan Bank Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) Agus Mulyana saat meraih gelar do oktor dalam Ujian Sidang Promosi Doktor (S3) Program Studi Manajemen, di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Senin (10/2).

Dalam sidang disertasi di hadapan tiga promotor yakni Prof. Ratih Hurriyati, Prof. H. Disman, dan Dr. Lili Adi Wibowo serta dua penguji yakni Prof.Nandan Limakrisna, dan Dr. Heny Hendrayati, Agus mampu mempertahankan penelitiannya yang berjudul 'Model Bisnis Fintech dalam Meningkatkan Marketing Performance di Indonesia' dengan meraih predikat cumlaude (3,92).

Agus menjelaskan, berdasarkan data yang ada, yang dapat digunakan untuk mengetahui serta mengukur konfigurasi tekfin baru sebatas pada jumlah perusahaan, market size, dan data keuangan tekfin (peer to peer lending).

Dalam penelitiannya, Agus berhasil melahirkan model baru yang diberi nama Model Bisnis Hybrid 5.0 yang menggabungkan antara intelectual capital yang melahirkan innovation dan Information Technology Capability yang menghasilkan Value Creation.

"Dengan kedua unsur tersebut akan menghasilkan suatu kekuatan yang besar untuk meningkatkan perekonomian suatu bangsa," kata Agus.

Menurut Agus, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 terdapat banyak kelemahan dalam bidang tekfin, yang semuanya dituntut serba otomatis.Pada sisi lain, perkembangan digital ini sangat menguntungkan dari segi efisiensi dan efektivitas.

"Namun pada sisi lain, rendahnya intelectual capital sumber daya manusia (SDM) dari suatu negara akan menjadi kelemahan di negara tersebut pada kemajuan teknologi digital yang sangat cepat, sehingga peran  manusia akan digantikan robot yang berbasis artificial Intelligence, menyebabkan manusia sangat tergantung dengan robot tersebut," katanya.

Agus menambahkan, Jepang dan Amerika memiliki teknologi tinggi di bidang industri dan mesin otomatisasi, namun pertumbuhan ekonominya tidak serta merta tumbuh tinggi. "Bahkan cenderung menurun," katanya.

Hal tersebut disebabkan semakin tinggi peran kekuatan industri yang dipengaruhi oleh mesin dan digitalisasi, sehingga berdampak semakin rendah peran dan fungsi dari manusia.

"Karena digantikan oleh mesin, pertumbuhan penduduk akan terganggu (krisis sosial), ketika masyarakatnya lebih memilih untuk hidup sendiri, tidak mau memiliki keluarga atau keturunan, bahkan memilih pasangan hidupnya atau sahabat curhat dengan robot atau asisten virtual," katanya.

Dia menilai, pertumbuhan jumlah penduduk dan angkatan kerja yang minim akan menghambat pertumbuhan produksi barang dan jasa sehingga akan mengancam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Menurt Agus, ketergantungan terhadap teknologi yang terlalu tinggi akan mengikis norma-norma agama, budaya, dan kehidupan sosial yang menjadi tujuan hidup manusia dalam bernegara.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, berdasarkan hasil penelitiannya, ditemukan suatu model yang baru yang diberi nama Model Bisnis 5.0. Model ini merupakan sinergisitas antara intelectual capital yang melahirkan innovation dan information technology capability yang menghasilkan value creation, sehingga dengan sinergitas kedua unsur tersebut akan menghasilkan suatu kekuatan yang besar untuk meningkatkan perekonomian suatu bangsa.

"Untuk membangun ekonomi suatu negara agar tumbuh lebih baik dan maju, tidak hanya dibangun dengan kekuatan mesin dan teknologi yang tinggi, akan tetapi juga harus berkolaborasi dengan intelectual capital society yang berbasis Human/manusia. Inilah yang saya sebut sebagai hybrid busines model atau business model 5.0. Model ini cocok diterapkan di Indonesia dan dapat digeneralisasikan pada seluruh perusahaan yang bergerak baik di bidang jasa, ritel, maupun manufaktur," katanya. (BY/OL-09)

BERITA TERKAIT