10 February 2020, 15:28 WIB

Sektor Pariwisata Bisa Rugi Rp 2,7 Triliun Imbas Virus Korona


Indriyani Astuti | Humaniora

MEREBAKNYA wabah virus Korona turut berdampak pada sektor pariwisata di Indonesia. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, mengungkapkan kerugian akibat terhentinya arus wisatawan Tiongkok ke Indonesia diperkirakan mencapai Rp 2,7 triliun.

Hal itu disampaikan Haryadi dalam Musyawarah Nasional (Munas) PHRI XVII Tahun 2020 di Karawang, Jawa Barat. Hadir dalam acara itu Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana.

"Berkembangnya virus Korona dampaknya mengakibatkan pembatalan lebih dari 78 ribu packs di Bali," ujar Haryadi, Senin (10/2).

Dipaparkan Hariyadi, turis dari Tiongkok yang datang ke Indonesia setiap libur Tahun Baru Imlek mencapai 3000 orang. Adapun biaya yang dikeluarkan setiap orang mencapai US$ 1.100 per hari. Berdasarkan kalkulasinya, sektor pariwisata berpotensi kehilangan penerimaan sebesar hampir Rp 2,7 triliun atau setara US$ 200 juta pada Januari-Februari.

Baca juga: Dokter Pelapor Pertama Virus Korona Meninggal

Guna mencegah dampak lebih buruk terhadap sektor pariwisata, diluncurkan program Visit Wonderful Indonesia (ViWI) Nusantara Shocking Deal 2020 yang diinisiasi asosiasi hotel dan restoran, tur operator, travel agent, maskapai, taman hiburan, properti, serta industri lain terkait pariwisata.

"Kami menawarkan paket wisata rendah  mulai kamar hotel, dari tiket pesawat, tur, transportasi dan pusat perbelanjaan. Sehingga, mendorong peningkatan wisatawan nusantara," terangnya.

Pada kesempatan itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan upaya menanggulangi wabah virus corona menjadi isu global saat ini. Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi dengan mengoptimalkan penggunaan thermal scanner di sejumlah bandara dan pintu masuk wisatawan mancanegara, penyiapan rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Serta, penghentian sementara penerbangan ke atau dari Tiongkok yang berlaku 5 Februari 2020.

"Hal ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat kita dari kemungkinan yang tidak diinginkan," pungkas Ma'ruf.

Dia menyebut berbagai langkah yang diambil pemerintah sepenuhnya mengacu standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan praktek internasional dalam perlindungan kesehatan masyarakat. Sebagai upaya pencegahan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap virus korona melalui langkah preventif. Misalnya, menjaga kebersihan lingkungan serta makanan yang dikonsumsi dan menjalankan pola hidup sehat.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT