10 February 2020, 09:35 WIB

Bangkitkan Ekonomi dan Pendidikan Aceh


Uca/P-5 | Politik dan Hukum

GELARAN Kenduri Kebangsaan yang akan berlangsung di Bireuen, Aceh, Sabtu, 22  Februari 2020, menjadi momentum membangkitkan ­kesejahteraan Aceh melalui pelbagai bidang. Cendekiawan muslim ­Azyumardi Azra menyebut Kenduri Kebangsaan jadi momentum mendorong ekonomi Aceh bangkit lewat semangat kewirausahaan.

“Kenduri nasional ini kita harapkan bisa menjadi momentum untuk membangkitkan ekonomi Aceh, mendorong kembali semangat wirausaha orang Aceh,” terang Azyumardi, Jumat (7/2).

Selain itu, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menyebut Kenduri Kebangsaan menjadi momentum mendorong kembali revitalisasi Aceh sebagai pusat pendidikan dan intelektualisme Islam, baik di tingkat nasional maupun regional.

Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi Islam di Aceh berkualitas cukup baik. Karena itu, ia menekankan tendensinya pada lembaga pendidikan Islam di tingkat dasar dan menengah di Aceh yang perlu diakselerasi.

“Membangkitkan kembali tradisi intelektual, menghidupkan kembali Aceh sebagai pusat intelektualisme Islam, tak hanya di Indonesia, tapi di Asia Tenggara. Jadi, kalau Aceh itu sebagai Serambi Mekah, lembaga pendidikan tradisio­nalnya harus didorong, dihidupkan kembali, dimodernisasi. Dalam hal ini ialah dayah, dayah itu kekuatan keislaman di Aceh,” ujarnya.

Pernyataan Azyumardi itu didasari sejarah dan tradisi Aceh yang berjaya pada dua bidang itu di masa keemasannya. Di bidang pendidikan, Azyumardi menyebut Bumi Serambi Mekah menjadi salah satu pusat studi Islam paling tua di Nusantara, yang menelurkan tokoh-tokoh intelektual muslim dan membentuk tradisi Islam di Nusantara. Di antaranya, Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin Al-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili.

“Aceh sebagai pusat intelektualisme Islam yang pertama. Banyak orang muslim Indonesia tidak begitu tahu mengenai peran Aceh sebagai pusat intelektualisme Islam di Nusantara ini, dimulai dengan kemunculan dan juga berjayanya tokoh-tokoh pemikir muslim, intelektual muslim. Tokoh-tokoh ulama besar yang saya kira peranan mereka dalam membentuk pemahaman keislaman, tradisi keislam­an, praktik keislaman di Nusantara ini besar sekali,” papar Azyumardi.

Di bidang ekonomi, imbuhnya, Aceh di masa keemasannya sangat aktif dalam perdagangan bebas internasional, sekaligus menjadi pintu masuk perdagangan dari luar. Bahkan, berdasarkan riwayat sejarahnya, kapal-kapal dagang Aceh yang membawa rempah-rempah berlayar hingga ke Eropa.

Di masa kesultanan, Aceh juga memiliki basis militer yang kuat sehingga dijadikan benteng pertahanan dari penjajah Eropa yang berusaha masuk ke Nusantara. Bahkan Azyumardi mengatakan kekuatan militer Aceh pada masa itu disumbang kaum perempuan.

“Jadi, Aceh ini menunjukkan contoh kepada kita (masyarakat) Indonesia ini dan juga kepada dunia bahwa kaum perempuan itu bisa menjadi pemimpin, raja, ratu, tentara.”  (Uca/P-5)

BERITA TERKAIT