09 February 2020, 06:30 WIB

Jokowi Bahas Investasi dengan Australia


(Des/N-3) | Internasional

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) bertolak ke Canberra, Australia, untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Salah satu agenda penting Presiden di sana ialah membahas peluang investasi Australia di Indonesia.

Untuk mendampingi Presiden, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat ini telah berada di Canberra. Jokowi berangkat dari Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, kemarin.

Presiden berada di Canberra pada 8-10 Februari 2020. Di 'negeri jiran' itu, Jokowi akan melakukan dua kegiatan utama, yaitu kunjungan kenegaraan dan menghadiri Annual Leaders Meeting (ALM).

Sebelumnya, ALM telah digelar di Bogor pada 31 Agustus 2018 lalu. Secara bilateral, juga akan dibicarakan penerapan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) untuk meningkatkan akses pasar Australia dan membahas peluang investasi Australia di Indonesia.

Menurut jadwal, Kepala BKPM akan mendampingi Presiden pada ALM Indonesia-Australia yang akan dihadiri oleh kedua pemimpin negara pada 9-10 Februari 2020. Dalam menanggapi hal ini, Kepala BKPM mengatakan menyambut secara antusias karena pemerintah akan memiliki payung hukum yang jelas untuk implentasi perjanjian.

"IA-CEPA diharapkan bisa menggenjot ekspor Indonesia ke Australia karena selama ini defisit neraca perdagangan hampir US$3 miliar. Ini sejalan dengan target investasi pada peningkatan sektor industri berorientasi ekspor. Sekarang peluang pasar diperluas. Ini menjadi modal kami untuk 'jualan' kepada investor yang mau masuk ke Indonesia," ungkap Bahlil dalam keterangan resmi, kemarin.

Dia menambahkan, kemudahan tarif dan nontarif dalam IA-CEPA menjadi kesempatan bagi UMKM untuk memicu penjualan produk-produk ke Australia. "Mari kita lihat apakah efektif untuk membantu para UMKM kita. Kalau belum, kita review apa yang perlu diperbaiki."

Bukan itu saja, IA-CEPA juga mengatur kerja sama di bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dan vokasi. Dalam hal ini, Australia dapat berkolaborasi dengan beberapa startup dan UMKM Indonesia untuk membuka lapangan kerja dan memberikan dampak sosial.

"Australia jangan hanya investasi di sektor pertambangan, tetapi perlu juga di sektor pendidikan vokasi supaya upgrade skill pekerja Indonesia. Jadi, pekerja Indonesia sudah siap masuk ke lapangan kerja dan menciptakan lapangan pekerjaan menjadi social entrepreneur," pungkas Bahlil.

Sebagai informasi, dalam rentang 2015-2019, Australia baru berinvestasi sebanyak US$1,8 miliar dan menduduki peringkat 12 negara investor di Indonesia. Sektor yang mendominasi antara lain pertambangan sebesar 44,7%. (Des/N-3)

BERITA TERKAIT