09 February 2020, 05:10 WIB

Pesona Gerak dalam 1917


FATHURROZAK | Weekend

PADA 2015, Birdman besutan Alejandro Gonzalez Inarritu memenangi Oscar untukfilm terbaik, sutradaraterbaik, dan sinematografi terbaikoleh Emmanuel Lubezki. Film 1917setidaknya memiliki pendekatan eksplorasi teknis serupa Birdman dengan kemasan berbeda.

Sutradara Sam Mendes mengeksekusi teknik pengambilan gambar yang tak biasa ke dalam fi lm drama Perang Dunia (PD) I, 1917. Dengan one continuous shot (long take), ia membawa penonton ke suasana perang melalui dua prajurit Inggris yang menyusuri parit atau berkubang di lubang kolam. Kamera sesekali memperlihatkan apa yang dilihat duo Kopral Blake (Dean Charles Chapman) dan Kopral Schofi eld (George Mac-Kay). Namun, terkadang juga bertindak seperti karakter yang berada di dekat keduanya.

Penggunaan teknik ini walau tak lazim sebenarnya bukan hal baru. Ada sejumlah fi lm yang telah memanfaatkan teknik yang seolah mereduksi penyuntingan ini: Touch of Evil-nya Orson Welles, Goodfellas-nya Martin Scorsese, Children of Men oleh Alfonso Cuaron, dan Birdman (2014), serta fi lm laris asal Jepang One Cut of the Dead (2017). Dalam Birdman, fi lm yang berlatar pada hari-hari di balik layar dan pentas Broadway, Inarritu memanfaatkan 'ilusi' one take dengan gambar transisi yang beberapa kali diarahkan ke tembok.

Birdman dan 1917 bisa disandingkan dalam kesamaan eksplorasi, dengan kemasan berbeda. Kamera Lubezki dalam Birdman menyorot tokoh utama Riggan (Michael Keaton) menyusuri tiap lorong di belakang panggung Broadway, juga karakter lain. Menghasilkan efek visual yang memikat dari fl uiditas pergerakan karakter. Sementara itu, sinematografer Roger Deakins membawa pandangan penonton 1917 secara perlahan dari yang hanya berfokus pada Blake dan Schofi eld, lalu melebar ke dunia tempat mereka berada.

Dalam 1917, 'ilusi' one take ini juga bisa terdeteksi pada momentum transisi penyuntingan gambar seperti saat Blake dan Schofi eld merayap di kubangan kolam, lalu kamera bergerak ke gundukan tanah. Sebagai fi lm yang diintensikan dengan long shot-nya, jahitan penyuntingan 1917 tidaklah begitu mengganggu fl uiditas alur. Mendes, dengan eksplorasinya lewat teknik ini justru menyuguhkan pergerakan yang indah.

Seperti tersirat sepanjang durasi 19.30 menit Reel-Unreel -nya Francis Alys. Reel-Unreel memperlihatkan visual bocah-bocah Kabul, Afghanistan, menggelindingkan kumparan seluloid fi lm. Alys mengikuti pergerakan mereka untuk mengungkap yang tengah terjadi. Begitu pula Mendes, ia berfokus pada peristiwa-peristiwa di dalam frame, utamanya ialah pada pergerakan kedua karakter, yang menggulirkan pergerakan alur fi lm untuk menguak peristiwa lain yang terjadi dalam waktu berbeda.

Personal dan resonansi global Film 1917 sesungguhnya memiliki plot sederhana. Dua prajurit Inggris ditugaskan mengantar pesan ke baris terdepan di medan perang. Mereka harus menyampaikan pesan tersebut agar angkatan perang Inggris terhindar dari kekalahan telak atas jebakan Jerman dalam Perang Dunia I itu. Blake ditunjuk sebagai kurir lantaran ia punya kakak yang bertugas di garis depan. Blake pun memilih Schofi eld untuk menemani. Keduanya hanya punya waktu semalam untuk mengantar surat, melewati bekas kamp tentara Jerman, selain juga risiko terlihat tentara Jerman di tengah perjalanan. Cerita tersebut terinspirasi dari kisah kakek Mendes, Alfred H Mendes, yang ikut serta dalam PD I.

Tribut itu juga disematkan pada akhir fi lm yang mencantumkan nama Alfred Mendes. Dengan demikian, 1917 juga punya intensi personal Mendes. Ditampilkan dalam skala dunia perang yang lebih mikro. Berfokus pada dua karakter sehingga itu juga memperkuat drama humanis di dalamnya. Film berdurasi 119 menit itu telah menggondol sejumlah predikat fi lm terbaik dalam musim penghargaan tahun ini, seperti Golden Globe dan, Critic's Choice. 1917 juga dinominasikan film terbaik pada Oscar 2020. Walakin, di ajang Screen Actors Guild (SAG) Awards 2020, 1917 tidak masuk nominasi untuk para aktor utama maupun ansambelnya.

Mendes tampaknya berfokus pada kemasan teknis ketimbang memberi porsi dominan pada keaktoran para pemain. Meski begitu, MacKay tampil tidak mengecewakan. Aktor-aktor kawakan seperti Colin Firth (The King's Speech) dan Benedict Cumberbatch (The Imitation Game), yang memerankan para petinggi angkatan, bahkan tampil tak lebih dari lima scene. Film ini juga menyajikan satusatunya lagu yang nyaring dan efektif, The Wayfaring Stranger.

Lagu ini menjadi salah satu unsur diegetic yang menguatkan motif aural 1917. The Wayfaring Stranger dihadirkan pada momentum hening dan ironi, dinyanyikan seorang prajurit dengan pengadeganan para prajurit lain duduk melingkar. Mengisi scoring ketika karakter yang kita ikuti sejak awal tengah berada di ambang putus asa.

Berbicara konteks dunia saat ini, tentu 1917 selain juga bersinggungan dengan isu friksi Amerika-Iran yang memanas, juga posisi Inggris di Eropa. Pemicu PD I, mungkin saja lebih kompleks dari sekadar pembunuhan Franz Ferdinand, pewaris kekaisaran Austria-Hongaria saat itu. Serupa pemicu-pemicu yang bertebaran sekitar sentimen Amerika-Iran saat ini dan munculnya dengungan perang. Adapun Inggris yang resmi melepaskan diri dari Uni Eropa menjadi kontradiksi dengan visi Mendes dalam layar: karibnya hubungan Inggris dan sekutu Eropanya. (M-2)

BERITA TERKAIT