09 February 2020, 05:00 WIB

Tokoh Besar Muncul jika Negara Aman


(Pro/P-1) | Politik dan Hukum

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Utama (PBNU) Said Aqil Siradj mengingatkan bahwa tokoh-tokoh besar hanya akan muncul dari negara yang kondisinya aman dengan masyarakat yang tenteram dan damai.

Hal itu dikatakannya saat membuka Simposium Nasional Islam Nusantara di Gedung PBNU, Jakarta, kemarin.

"Jangan harap akan muncul pemikir besar, tokoh besar, ulama besar dari masyarakat yang konflik tiap hari, bom meledak setiap saat, jangan harap," kata Said Aqil.

Said Aqil menyinggung konflik tak berkesudahan yang terjadi di Timur Tengah. Ia menyebut negara-negara Timur Tengah kini kebingungan untuk mengakhiri konflik itu. Mereka dianggap belum mampu mengharmonisasikan agama dengan negara.

Menurutnya, Indonesia sudah selesai dengan perdebatan hubungan negara dengan agama. Hal itu terkandung dalam Islam Nusantara. "Hubungan negara dan agama bagi Hasyim Ashari selesai. Diamini pendiri oleh Muhammadiyah, Al Irsyad, Al Wasliyah. Tidak bisa dipisahkan agama yang sakral dari langit dengan budaya kreativitas manusia, nasionalisme. Selesai, tidak perlu bicara hubungan agama dan negara," ungkap dia.

Sejarawan Indonesia bidang Kemaritiman Universitas Indonesia (UI) Susanto Zuhdi menyebut Islam Nusantara sebagai Islam yang selaras dengan sejarah bahari Nusantara.

Karena itu, dia lebih tertarik menyebut Islam Nusantara sebagai Islam bahari. Ia menyebut Islam bahari berani menegakkan keadilan di tengah keragaman suku agama Indonesia.

"Kenusantaraan itu bahari meskipun ada disruptif juga antara bahari dan maritim. Kenapa tidak menggunakan bahasa bahari yang ratusan tahun populer yang dibawa oleh Sultan Aliyudin Goa," kata Susanto Zuhdi.

Susanto juga menilai ada kekhawatiran tentang konsep Islam Nusantara yang digaungkan NU dapat menjadi dikotomi antara umat Islam di Jawa dan luar Jawa.

"Kekhawatiran bahwa Islam Nusantara itu masih berspektif Jawa-sentris, itu saya duga atau dianggap mengkhawatirkan lalu Islam menjadi dikotomi sebab ini juga warisan kolonial ketika Jawa dan luar Jawa dipertentangkan. Mudah-mudahan saya keliru, tapi saya melihat ini sebagai sebuah kekhawatiran," kata Susanto.

Selain Said Aqil Siroj dan Susanto, narasumber lainnya ialah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, sejarawan NU Agus Sunyoto, dan dan Rektor Unusia Jakarta Ma'soem Mahfudz; KH Yahya Cholil Tsaquf. (Pro/P-1)

BERITA TERKAIT