09 February 2020, 04:05 WIB

Bidasan Bahasa Dari Risi Jadi Gimik


Redaktur Bahasa Media Indonesia Adang Iskandar | Weekend

INISIAL merupakan singkatan dari nama seseorang. Biasanya diambil dari huruf awal. Penggunaan inisial lazim digunakan pihak kepolisian dalam pengungkapan sebuah kasus kriminal.

Saat menyampaikan konferensi pers sebuah kasus kejahatan, misalnya, kepolisian biasanya menggunakan inisial nama saat menyebutkan tersangka. Hal itu dilakukan demi asas praduga tak bersalah terhadap si tersangka sebelum ada putusan. Contohnya untuk nama tersangka Edi Nurhadi digunakan inisial EN. Polisi tidak menyebutkan nama lengkap si tersangka.

Dalam hal ini, inisial berguna antara lain untuk menjaga etika kesantunan agar pihak yang disangka. Jika ternyata tidak benar, citranya tak begitu buruk.

Meskipun demikian, tetap saja penggunaan inisial oleh pihak berwajib itu menyiratkan impresi negatif. Dalam sebuah gelar perkara, inisial yang digunakan kepolisian untuk siapa pun orangnya tetap berimpresi negatif di benak orang yang mendengar atau melihatnya. Orang akan berkesan negatif kepada sosok yang disebut dengan inisial itu.

Karena itu, dalam konteks perkara yang ditangani kepolisian, siapa pun pasti merasa risi dan tidak ingin disebut namanya dengan inisial. Inisial berarti tersangkut kasus meski belum tentu bersalah.

Namun, setelah era reformasi, kondisinya berbeda. Inisial justru marak dipakai dalam praktik politik. Dalam pemilu presiden, inisial dipakai untuk memberi kesan keunikan agar sang calon mudah diingat. Pun dalam pemilihan kepala daerah atau pemilihan anggota legislatif, banyak nama calon disingkat dengan inisial. Hal ini menjadi bagian dari strategi untuk menjadi pemenang. Inisial menjadi gimik dan trik untuk lebih menarik.

Kita masih ingat Pilpres 2004, pasangan calon presiden dan wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menjadi kampiun. Menurut saya, tak dimungkiri kemenangan pasangan itu antara lain berkat gimik inisial yang diterapkan tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. SBY-JK. Begitu inisial yang digunakan untuk pasangan itu. Inisial SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)-JK (Jusuf Kalla) lebih mudah diingat dan menancap di benak masyarakat saat itu jika dibandingkan dengan pesaing mereka--Mega-Hasyim (Megawati-Hasyim Muzadi), Wiranto-Sholah (Wiranto-Salahuddin Wahid), Amien-Siswono (Amien Rais-Siswono Yudo Husodo), dan Hamzah-Agum (Hamzah Haz-Agum Gumelar). Kalau kita lihat, hanya pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menggunakan inisial. Keempat pasangan lainnya tidak menggunakan gimik itu.

Setelah era itu, ramai-ramai para politikus menggunakan inisial sebagai salah satu cara untuk mendongkrak popularitas, seperti Aburizal Bakrie menggunakan ARB, Hari Tanoesoedibjo memakai HT, lalu Yusril Ihza Mahendra dengan YIM, dan AHY untuk Agus Harimurti Yudhoyono. Beberapa politikus lain menggunakan akronim nama, seperti Joko Widodo menjadi Jokowi dan Bambang Soesatyo dengan Bamsoet. Saya pikir tentu ada campur tangan para jurnalis dalam hal 'sosialisasi' inisial tersebut.

Di suatu daerah, saya pernah melihat seorang caleg bernama Sutrisno Hadi Yudianto menggunakan inisial SHY di alat peraga kampanyenya. Tidak ada yang salah dan dilanggarnya. Mungkin Sutrisno ingin mendekatkan inisial namanya dengan tokoh Partai Demokrat: SBY dan AHY, sehingga pemilih gampang mengingat dan memilihnya. Siapa tahu?

BERITA TERKAIT