09 February 2020, 03:00 WIB

Aghni Haque: Makin Fokus di Seni Peran


Fathurrozak | Weekend

AKTRIS muda Aghniny Haque, 22, mengaku makin mantap menjalani kariernya di dunia akting, setelah kemunculannya pada film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018). Di film itu, Aghniny berperan sebagai Rara Murni dan banyak menampilkan adegan laga.

Wajar saja karena perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu memang atlet taekwondo dan sempat berada di Pelatnas pada medio 2011-2016. Aghniny, bahkan pernah mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia dari pertandingan di SEA Games 2013 dan medali emas dari pertandingan Islamic Solidarity Games (ISG) 2013.

Karier atletnya selesai setelah cedera yang dialaminya pada 2016. Lepas dari dunia atlet, Aghniny membelokkan hidupnya pada layar perak dan film Wiro Sableng menjadi debutnya. Di film itulah, bakat seni peran Aghniny terlihat.

Setelah Wiro Sableng, ia bermain di film Wedding Agreement sebagai Sarah, dan Habibie & Ainun 3 sebagai Arlis Reksoprodjo. Kedua film itu dirilis pada 2019. Untuk tahun ini, Aghniny bermain di dua film yang akan tayang, yakni Melankolia dan KKN di Desa Penari.

Selama tiga tahun mencicipi dunia seni peran, Aghniny sudah membintangi enam film layar lebar dan sejumlah serial televisi. Aghni, demikian ia biasa disapa, mengaku kemampuan aktingnya tidak didapatkan begitu saja.

Ia juga memperdalam kecakapan aktingnya dan tidak bersandar pada pelatih akting (acting coach) saat produksi film berlangsung. "Aku ikut kelas akting," ungkapnya saat ditemui Media Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta, pada Rabu (5/2).

Di samping itu, ia juga melatih dirinya secara mandiri setiap hari untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu mendadak ada produksi film.

Datangi psikiater

Setelah menjalani dunia seni peran secara rutin, proses pendalaman peran yang dijalaninya kadang kala membuat Aghni bingung sendiri.

"Aku kadang sering terombang-ambing. Ini gue bukan sih?" cetusnya.

Perasaan yang aneh itu tidak dipendamnya sendirian. Ia segera memeriksakan dirinya ke psikiater untuk mendiskusikan apa yang dirasakan. "Jadi setelah syuting, cek ke psikiater. Ya lebih ke ngobrol aja sih. Walau karakter yang dibawain itu katakanlah mirip-mirip dikit dengan kita, tapi menurutku tetap bakal memengaruhi psikis. Apalagi adegan berat yang mengharuskan recall memori masa lalu. Yang bisa saja menyakitkan," ungkapnya.

Sebagai perbandingan, Aghni juga berdiskusi dengan beberapa rekan aktor dan aktris lain. Ia ingin tahu bagaimana metode mereka dalam melepas karakter yang dibawakan dalam film. Seperti yang ia tanyakan pada Ganindra Bimo, lawan mainnya dalam proyek film pendek Menanti Keajaiban garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko.

"Aku nanya juga sama Bimo. Gimana sih untuk bisa lepas dari karakter. Waktu itu kan dia pernah juga sempat kesulitan untuk melepas karakternya saat berperan di salah satu filmnya. Tapi terkait metode ini juga ada caranya di kelas akting," imbuhnya. (H-2)

BERITA TERKAIT