09 February 2020, 01:20 WIB

Menelusuri Perjalanan Seni Rupa lewat Poster


FU/M-4 | Weekend

AGUSTUS, 46 tahun silam. Tepatnya pada 2 Agustus 1974, salah satu maestro lukis Indonesia, Affandi Koesoema, menggelar pameran tunggalnya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Selama 6 hari (2-8 Agustus), pameran itu memajang karya-karya koleksi lukisan Affandi bertarikh 1934 sampai 1974.

Tak ada tema khusus di pameran itu. Hanya tulisan diadakannya pameran tunggal, waktu dan tempat, dan nama sang maestro, Affandi. Cukup singkat, selebihnya ilustrasi khas gambar wajah Affandi yang mendominasi dalam selembar poster berukuran 41 cm x 58 cm.

Poster itu bukanlah koleksi mahasiswa seni rupa yang suka mengumpulkan poster lalu menempelkannya di tembok rumah indekosnya, bukan pula poster yang tertempel di papan pengumuman museum Affandi Yogyakarta, dan juga bukan milik pedagang angkringan yang nantinya dipergunakan untuk bungkus nasi. Namun, poster itulah yang menjadi objek pameran dalam pameran seni Masa Lalu Belumlah Usai, di Tembi Rumah Budaya, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akhir Januari hingga 2 Februari lalu.

Ada 500 lebih poster di pameran itu. Semua terpajang di ruang pamer berbungkus plastik. Hanya dua yang terbingkai dalam pigura kaca: poster pameran ­Affandi dan poster pameran lukisan seniman Hery Dono berukuran 42,5 cm x 60,5 cm, di Cemeti-Modern Art Gallery, Yogyakarta, yang digelar pada 1-30 Desember 1989.

“Poster pameran Affandi dan Heri Dono di dinding awal di dalam ruang pamer adalah dua di antara ratusan poster yang paling signifikan,” kata kurator pameran Masa Lalu Belumlah Usai, Mikke Susanto, akhir Januari lalu.

Dua poster itu dianggap signifikan oleh Mikke karena menjadi poster pameran pelukis penting di Indonesia. “Affandi dan Heri Dono merupakan perupa Indonesia yang mampu masuk dalam kancah seni rupa global di masanya,” imbuhnya.

Pameran Masa Lalu Belumlah Usai menyajikan 546 lembar poster pameran seni rupa Indonesia pada 1974-2019 koleksi Dicti Art Laboratory. Dari pameran inilah pengunjung diajak membaca sejarah perjalanan seni rupa di Indonesia, mulai perjalanan seniman dalam berkarya sampai perubahan poster itu sendiri.

Seperti kehadiran poster Affandi yang tidak memuat tema pameran. Menurut Mikke, alasannya pada masa itu belum ada kurator sehingga konsep pameran tunggal biasa dipegang sang seniman. Jika posternya hanya menulis nama Affandi sebagai judul pameran, bisa diartikan pameran Affandi berisi semua karya lama dan baru dari senimannya.

“Jika merunut katalog pameran Affandi, ada 59 lukisan yang temanya bervariasi, mulai potret diri, potret Kartika, pemandangan alam, ayam, pengemis, sampai bunga matahari. Nyaris semua tema lukisan ada di dalam pameran,” kata Mikke.

Poster pameran Heri Dono juga tak menyebut tema pameran. Sebagai kurator, Mikke mengaku susah mendapatkan arsip pendukung perjalanan karier kesenimannya. “Tapi itu adalah poster pameran tunggal perdananya,” jelasnya mengapa poster Heri Dono mendapat tempat ­khusus. (FU/M-4)

BERITA TERKAIT