08 February 2020, 14:55 WIB

Pemda Bali dan Kementan Tangani Kasus Kematian Babi di Bali


mediaindonesia.com | Ekonomi

Kasus kematian babi dalam 1 (satu) bulan terakhir ditemukan pada beberapa lokasi peternakan di wilayah Kabupaten Denpasar / Kota Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. Sampai saat ini jumlah kematian babi total adalah 888 ekor. 

Ida Bagus Wisnuardhana, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, mengatakan bahwa peningkatan angka kematian ini merupakan
peningkatan tingkat masuknya agen penyakit baru dan mendukung faktor lingkungan yang kurang bersih / sehat. 

"Penularan dapat terjadi melalui kontak antara babi yang sakit dengan babi yang sehat atau sumber lain seperti pakan, peralatan kandang, dan peralatan lainnya," jelasnya pada acara Kampanye Daging Babi Aman Dikonsumsi, di Denpasar, Jumat (7/2/2020).

Wisnuardhana menentang kasus kematian babi di beberapa kabupaten / kota ini disebabkan oleh virus. Dan hal ini telah menimbulkan kerugian ekonomi dan membuat peternak menjual babi secara tergesa-gesa dengan harga murah. 

Berdasarkan hasil penelusuran ke lokasi laporan, babi yang mati menunjukkan tanda-tanda klinis seperti demam tinggi, kulit kemerahan berdasarkan daun telinga, inkordinasi, dan pneumonia. Menurutnya ini merupakan kasus ASF suspek.

Indikasi ini juga mendukung hasil pengujian laboratorium BBVet Denpasar. Untuk konfirmasi masih diperlukan pengujian dan diagnosa di laboratorium rujukan yg saat ini sedang dalam proses.

"Meski belum ada diagnosa definitif, namun langkah-langkah penanganan penyakit tetap dilakukan sesuai dengan standar. Semua ini dilakukan dengan dukungan dan koordinasi yang ditingkatkan bersama Kementan," tegasnya.

Sebagai langkah-langkah strategis Pemda Bali dan Kementan untuk mencegah penyebaran penyakit adalah melalui pembentukan jejaring informasi dan respon cepat penanganan kasus, investigasi terhadap sumber penularan, mengambil sampel babi untuk pemeriksaan laboratorium.

"Melalui komunikasi, informasi dan edukasi yang melibatkan desa adat, asosiasi peternak babi dan masyarakat peternak, kita ajak mereka untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit pada babi dengan menggunakan biosekuriti pada kandang," tambah Wisnuardhana. 

Ia juga menyampaikan bahwa telah dilakukan pengawasan terhadap tempat-tempat pemotongan babi. Hal ini untuk memastikan kesesuaian tata cara pemotongan ternak dengan prosedur oprasional standar. 

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Fadjar Sumping Tjatur. 

Penurunan kasus kematian babi ini merupakan indikator keberhasilan yang dilakukan. Hal ini dapat disetujui dengan dukungan peternak yang memberikan persetujuan besar dalam penerapan biosekuriti pada peternakan.

"Selain peternak, saya juga menyetujui komitmen dan peran serta pedagang dalam mendukung biosekuriti pada saat pengambilan dan pengiriman ternak dari satu kandang ke yang lain, sampai ke pasar dan / atau RPH Babi," tambahnya. 

Dalam rangka mendukung penanganan penyakit babi ini, Ditjen PKH telah memberikan bantuan berupa desinfektan sebanyak 20 kg dan 90 liter, alat pelindung diri (APD / APD) sebanyak 50 unit, dan sprayer sebanyak 15 unit.

Lebih lanjut Fadjar menjelaskan tentang kerangka memulihkan kepercayaan peternak dalam melakukan usahanya, serta memberikan kenyamanan dan ketentraman batin masyarakat dalam mengonsumsi daging babi, Pemerintah menjamin keamanan konsumsi daging babi yang sehat, dan mendukung program-program promosi yang terkait di wilayah lain. (RO / OL-10)

BERITA TERKAIT