07 February 2020, 21:20 WIB

Upaya Riil Reduksi Sampah


Galih Agus Saputra | Weekend

"KITA ini kan nyari lahan sudah susah. Jadi, lahan yang ada sayang sekali kalau hanya jadi tempat sampah. Daripada sampah-sampah itu memenuhi Bantargebang, kenapa tidak dijadikan material untuk reklamasi, misalnya, atau penahan abrasi?" tanya seorang pengunjung yang hadir di acara bincang-bincang Zero Waste Lifestyle di Kantor Media Indonesia, Kedoya, Jakarta, Rabu (29/1). Acara yang masuk ke rangkaian Festival Kopi tersebut merupakan bagian perayaan HUT ke-50 Media Indonesia.

Penanya itu mengakui sendiri jika usulannya mungkin terdengar kontroversial karena berpotensi berdampak negatif terhadap biota laut. Meski begitu, ia mengatakan usulan tersebut sekadar pancingan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memikirkan solusi riil supaya sampah tidak terus menggunung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Menerima pertanyaan itu, Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Edy Mulyanto, mengakui jika TPST Bantargebang yang memiliki luas 110 hektare memang hampir mencapai kapasitas maksimalnya. Diperkirakan TPST Bantargebang akan penuh tahun depan.

Terkait dengan itu, Pemprov DKI sudah menerapkan langkah yang sesuai dengan Kebijakan Strategis Nasional atau yang tertuang dalam Perpres 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Berangkat dari perpres itu, Pemprov DKI mengeluarkan Peraturan Gubernur 108 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

"Karena sampah organik, termasuk dari rumah tangga, itu yang jumlahnya paling besar. Lewat pergub itu, targetnya pada 2025 mendatang, pengurangan sampah langsung dari sumbernya mencapai 30%," jelas Edy yang menjadi salah satu narasumber dalam talk show itu.

Ia juga menjelaskan jika sekira sebulan lagi akan dihasilkan kebijakan untuk pengelolaan dan edukasi sampah di tingkat RW. Dengan tambahan kebijakan ini, diharapkan pengurangan sampah yang dikirim ke Bantargebang bisa optimal. Sementara itu, untuk mengurangi sampah plastik, mulai 1 Juli 2020 pemprov memberlakukan aturan larangan penggunaan plastik sekali pakai.

Nirsampah di gunung

Dalam acara tersebut, tiga narasumber lainnya menuturkan contoh nyata yang telah tiap-tiap pihak lakukan demi pengurangan sampah. Ketiga narasumber itu ialah Pendiri Gerakan Zero Waste Adventure Siska Nirmala, Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Jolene Marie, dan Ketua Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Media Group Ronggo Sulistyo.

Siska menjelaskan bahwa Zero Waste Adventure merupakan sebuah gerakan dan kampanye nirsampah dalam pendakian gunung. "Menurut saya, zero waste saat mendaki gunung itu penting banget karena sekadar membawa turun sampah saja tidak cukup. Di daerah pegunungan dan taman nasional itu kan tidak ada pengangkutan sampah yang rutin. Jadi sampah yang dibawa turun itu tetap saja menumpuk di basecamp. Di situ jadinya sudah seperti TPA," tutur Siska yang sudah menjalani gaya hidup zero waste sejak 2012.

Bukan sekadar omong, Siska, yang memang seorang pendaki gunung dan pemanjat tebing, telah menjalankan ekspedisi pendakian lima gunung tanpa menghasilkan sampah. Kelima gunung itu ialah Gunung Gede, Papandayan, Lawu, Tambora, dan Argopuro.

"Untuk menghindari sampah anorganik itu salah satu kunci utama adalah dengan tidak membawa makanan instan, seperti mi dan makanan-makanan kaleng. Lalu sebagai pengganti plastik, pakailah dry bag dan kalau sampah anorganik itu dicacah lalu dikubur, tapi biji-bijian dibawa turun agar tidak merusak ekosistem di atas gunung," tutur Siska, yang menjalankan ekspedisi lima gunung itu pada 2013-2015.

Tidak hanya mengampanyekan gerakannya lewat media sosial dan menyelenggarakan kelas zero waste untuk pendaki, ia juga sehari-hari melakukan composting sampah organik di rumahnya di Bandung, Jawa Barat.

Mirip dengan Siska, Puteri Indonesia Lingkungan 2019 juga mengaku sehari-hari sudah memilah sampah organik dan anorganik. Ia juga memiliki gerakan Stop Single Use Plastic dengan cara membagi-bagikan tumbler. "Dari pengalaman saya, yang mudah diajak mengubah gaya hidup itu justru anak-anak. Kalau orang dewasa masih sering tidak konsisten," terang Jolene Marie, yang mengampanyekan gerakannya secara nasional.

Media Group yang merupakan kelompok usaha yang juga memayungi Media Indonesia, menjadi contoh upaya riil reduksi sampah dari pelaku usaha. Ketua Sistem Manajemen Lingkungan Media Group, Ronggo Sulistyo, menjelaskan bahwa sebagai bentuk kesadaran lingkungan maupun komitmen terhadap kepesertaan di United Nation Global Compact, Media Group telah memiliki sistem pengolahan sampah organik, sampah anorganik nonresidu, sampah anorganik residu, limbah bahan berbahaya beracun (B3), dan minyak jelantah.

Untuk mengurangi sampah anorganik, Media Group sejak Desember lalu telah membagikan kurang lebih 2000 kotak tempat makan untuk seluruh karyawan. Adapun produksi sampah Media Group sendiri, kata Ronggo, dalam sebulan rata-rata mencapai 38 ton untuk organik dan 2 ton untuk anorganik.

"Lalu untuk mengolah sampah anorganik kita berkerja sama dengan Bank Sampah Jakarta Barat. Kita juga mengolah minyak jelantah menjadi biosolar," jelasnya.

Selain itu, Media Group berkerja sama dengan PT Biomagg yang berada di Depok, Jawa Barat. Di sana, sampah organik diurai dengan bantuan belatung atau larva dari lalat hitam (black soldier fly). Belatung tersebut kemudian dijadikan pakan unggas dan ikan, yang juga sudah menjadi komoditas ekspor.

"Maka dari itu, boleh dikatakan bahwa dewasa ini Media Group sudah hampir 100% tidak membuang sampah ke Bantargebang sejak Agustus sampai hari ini," pungkas Ronggo. (M-1)

 

BERITA TERKAIT