07 February 2020, 15:50 WIB

Survei Health on Demand, Pekerja Ingin Layanan Kesehatan Digital


mediaindonesia.com | Humaniora

HASIL survei terbaru ‘Health on Demand’ yang dilakukan terhadap lebih dari 16 ribu responden pekerja dan 1.300 responden perusahaan di 13 negara mengungkapkan bahwa sebanyak 68% dari total responden perusahaan tersebut berencana untuk berinvestasi lebih di layanan kesehatan digital dalam lima tahun ke depan.

Hal itu menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yakin dengan layanan kesehatan berbasis digital bisa menjadi solusi dengan biaya efektif untuk membantu para karyawannya menjadi lebih sehat. Selain itu, mereka ingin memenuhi harapan terhadap layanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan karyawan dengan biaya terjangkau.

Dari hasil survei ‘Health on Demand’ yang dilakukan pertama kali oleh Mercer Marsh Benefits, Mercer, dan Oliver Wyman, ditemukan bahwa walaupun terdapat cara pandang dan pola pikir yang berbeda, mayoritas 64% dari responden pekerja sangat antusias dengan prospek dari inovasi layanan kesehatan berbasis digital.

Sebanyak 63% dari responden pekerja juga mengatakan mereka percaya dengan cara baru dalam layanan kesehatan jika disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

“Temuan-temuan hasil survei 'Health on Demand' mengonfirmasi keyakinan kami bahwa perusahaan-perusahaan yang ingin membangun budaya hidup sehat di tempat kerja dan sekaligus meningkatkan upaya dalam retensi karyawan harus mempertimbangkan investasi layanan kesehatan digital,” kata Hervé Balzano, Mercer Marsh Benefits International Leader and Mercer President, Health, pada acara Media Breifing 'Health on Demand' di Jakarta, Jumat (7/2).

"Karena jika tidak dilakukan, risikonya bisa tertinggal di dalam persaingan pasar tenaga kerja global yang kompetitif saat ini," tambahnya.

Dari 13 negara yang di survei dalam studi ‘Health on Demand,’ tujuh negara termasuk dalam kelompok ‘negara maju’ dan enam negara lainnya masuk ke dalam kelompok ‘negara berkembang.’

Hasil temuan survei dari negara-negara berkembang menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap solusi layanan kesehatan digital.

Hal tersebut terungkap ketika responden ditanya seberapa besar keinginan mereka untuk mencoba setiap layanan yang tertera di urutan daftar 15 layanan kesehatan digital yang diberikan kepada mereka.

Hasil survei dari responden pekerja di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa mereka bersedia mencoba rata-rata 10 dari daftar 15 layanan kesehatan digital, dibandingkan dengan responden di negara-negara maju yang ingin mencoba rata-rata 5 dari daftar yang diberikan tersebut.

“Saat ini semakin banyak pekerja di negara-negara berkembang yang sudah siap dengan layanan kesehatan digital,” kata Douglas Ure, Presiden Direktur dan CEO Marsh Indonesia.

“Hasil temuan survei juga menunjukkan bahwa para pekerja di tiga belas negara yang di survei tersebut terbuka dengan layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan biaya terjangkau,” kata Douglas Ure.

“Ini adalah kesempatan bagi para perusahaan untuk menerima disrupsi teknologi dengan positif melalui cara dengan kemudahan akses ke layanan kesehatan yang berkualitas. Dari hasil survei, terungkap 90% responden perusahaan di Indonesia percaya bahwa investasi di layanan kesehatan digital akan memberikan dampak positif di tempat kerja dan pekerja bisa lebih bersemangat,” paparnya.

Hasil temuan survei dari tiap-tiap negara juga mengungkapkan preferensi yang berbeda. Selain ditanya seberapa besar keinginan responden pekerja untuk mencoba setiap layanan dari urutan daftar 15 layanan kesehatan digital, mereka juga ditanya seberapa besar manfaat dari tiap layanan yang ingin dicoba tersebut bagi mereka dan keluarga.

Layanan yang dinilai paling besar manfaatnya oleh hampir seluruh responden pekerja adalah layanan aplikasi berupa “membantu mencarikan dokter yang tepat atau layanan perawatan kesehatan dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.”

Hasil temuan ini juga ada di urutan teratas yang dikatakan oleh 66% dari responden pekerja di Indonesia. Di negara Inggris, layanan yang paling diminati adalah teknologi yang dapat dipakai dalam kondisi kronis untuk membantu penderita secara mandiri.

Di negara Tiongkok, 76% dari responden pekerja mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas perawatan kesehatan anggota keluarga jika dibandingkan dengan hasil survei rata-rata 53% di 13 negara.

Layanan kesehatan digital yang paling diminati oleh responden pekerja di Tiongkok adalah “robot pendamping yang membantu para lansia tetap sehat di rumah” – dimana layanan ini merupakan peringkat paling terakhir di 12 negara lain yang disurvei.

Ketertarikan pada solusi layanan kesehatan digital dapat merambah ke cakupan fitur yang lebih luas serta fokus untuk membangun budaya sehat di tempat kerja.

Dari hasil survei terhadap responden perusahaan, secara jelas mereka menyadari pentingnya kesejahteraan karyawan; 95% mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi dengan jumlah lebih atau sama guna melakukan tindakan inisiatif dalam layanan kesehatan untuk lima tahun ke depan.

Lebih lanjut, 71% dari responden perusahaan percaya bahwa mereka peduli dengan kesejahteraan karyawannya.

Namun, ketika responden pekerja ditanya pertanyaan yang sama, hanya 50% yang mengatakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan. Hasil survei juga mengungkapkan saran untuk mengurangi kesenjangan pendapat tersebut.

Menurut hasil temuan survei 'Health on Demand', semakin besar tunjangan kesehatan dan kesejahteraan karyawan yang diberikan oleh perusahaan  semakin besar para pekerja merasa didukung dan dihargai, dan semakin kecil kemungkinannya mereka akan meninggalkan perusahaan.

Hasil survei mengungkapkan, dari responden pekerja yang ditawari 10 tunjangan kesehatan atau lebih dari perusahaan, 75% percaya bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan, sedangkan para pekerja yang ditawari 5 tunjangan kesehatan atau kurang, hanya 43% yang percaya. (OL-09)

BERITA TERKAIT