07 February 2020, 18:40 WIB

BNPT Akui Deradikalisasi tak Mudah


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

DEPUTI Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen TNI Hendri Paruhuman Lubis mengatakan bahwa program deradikalisasi yang dilakukan terhadap pelaku tindak pidana terorisme dan radikalisme, tidak mudah.Kendalanya, ada terpidana yang berada di lembaga permasayarakatan dan tidak mau mengikuti program deradikalisasi.

"Tidak semua mereka yang ada di lapas mau. Bahkan, sampai keluar dari penjara, ada yang tidak ikut program deradikalisasi," papar Lubis di Kantor BNPT, Jakarta, Jumat (7/2).

Baca juga: Gubernur Ganjar Tolak Pemulangan IS ke RI

Tanpa deradikalisasi, imbuh Lubis, akan sulit bagi orang yang sudah terlanjur terpapar paham-paham tersebut untuk tidak mengulangi perbuatannya. Menurutnya, dalam penerapan deradikalisasi, BNPT memerlukan kerja sama dari kementerian dan lembaga lain. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan, deradikalisasi dimulai sejak akhir 2014 dan diterapkan di lapas-lapas yang menahan narapidana tindak pidana terorisme dan radikalisme. Mereka, ujar Suhadri, tersebar di 107 lapas diantaranya Bambu Apus, Jakarta.

"Itu sebarannya sekian banyak lapas, ada 107 lapas yang ada terorisnya," ucap dia.

Kendala lainnya, tidak semua lapas mampu menampung narapidana tindak pidana tersebut. Kebanyakan, lapas di daerah, kata Suhardi, penuh dengan narapidana tindak pidana lain seperti narkotika. Oleh karena itu, menurutnya pemerintah belum memutuskan WNI yang diduga menjadi Foreign Terorist Fighter (FTF) seperti Islamic State (IS) di Syiriah dan Iraq, untuk diperbolehkan kembali ke Indonesia. 

Baca juga: BNPT Lakukan Verifikasi Data WNI yang Diduga Bergabung dengan IS

Jumlah WNI yang terduga bergabung dengan IS diperkirakan mencapai 600. BNPT saat ini tengah melakukan verifikasi data WNI tersebut. Adapun, bentuk deradikalisasi untuk mereduksi paham-paham radikal terhadap mereka, Suhardi menyampaikan, hal itu belum ditentukan.

"Saya tidak mau berandai-andai. Mereka secara fisik baik saja, tapi secara pola pikir. Anak-anak yang ikut latihan menjadi fighter (pejuang IS) saja tiga tahun," tukasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT