07 February 2020, 15:30 WIB

E-TLE Portabel di JLNT, Pelanggar Sepeda Motor Masih Marak


Tri Subarkah | Megapolitan

POLDA Metro Jaya terus mengembangkan penerapan sistem tilang kamera atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) untuk pelanggar sepeda motor. Penambahan kamera tilang akan akan merambah ke tiga ruas jalan layang non tol (JLNT).

Direktur Lalu lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusuf, mengatakan penerapan E-TLE di tiga JLNT untuk sementara waktu dilakukan secara portabel. Ketiga JLNT yang dimaksud adalah JLNT Kampung Melayu - Tanah Abang (Casablanca), JLNT Daan Mogot (Pesing), dan JLNT Antasari.

Baca juga: Terjaring Narkoba, PKS Minta Diskotek Crown Ditutup

Media Indonesia melakukan pemantauan terhadap pesepeda motor yang melakukan pelanggaran di tiga JLNT tersebut. Hasilnya, masih banyak ditemui pesepeda motor yang nekat melintasi tiga jalur itu. Padahal, terdapat marka pelarangan sepeda motor untuk melintas di JLNT.

Pantauan Media Indonesia di JLNT Casablanca, tepatnya dari arah Kampung Melayu, masih ditemui beberapa pesepeda motor yang naik ke jalur yang dikhususkan untuk roda empat tersebut. JLNT yang diresmikan pada akhir tahun 2013 itu sebenarnya tidak ramah bagi sepeda motor karena angin yang berhembus kencang sehingga membahayakan keselamatan.

Namun, hal tersebut tidak digubris oleh Fahmi, 23. Pengemudi ojek daring itu sengaja melintasi jalur tersebut dengan alasan menghindari kemacetan. 

"Biar lebih cepet aja, abis di bawah macet. Saya kalau di atas nggak pernah jalan ke tengah. Di pinggir aja, pelan-pelan," dalihnya.

Sementara itu, jumlah pesepeda motor yang melintasi JLNT Pesing terpantau lebih banyak ketimbang JLNT Casablanca. Para pesepeda motor seperti tidak mengindahkan marka dan fakta bahwa sering terjadi kecelakaan di jalur itu. Padahal, jalur sepanjang 1,5 km tersebut hanya cukup dilalui oleh satu mobil di setiap lajurnya.

Anto, 40, pesepeda motor yang nekat melintas mengaku belum mengetahui mengenai penerapan sistem E-TLE di JLNT itu. "Saya taunya yang di Sudirman aja sih, kalau di sini nggak. Selama ini aman-aman aja," tandasnya.

Dibanding dua JLNT di atas, JLNT Antasari terbilang paling sedikit dilintasi oleh pesepeda motor. Bahkan pantauan Media Indonesia di lokasi menunjukkan jumlah pesepeda motor yang melintas di jalur sepanjang 4,6 kilometer tersebut nihil.

Edwin, 27, salah satu pengendara mobil yang setiap hari melintasi jalur tersebut mengatakan jarang menemui pesepeda motor yang melintas. "Satu dua lah, jarang kalau motor mah. Mungkin karena panjang banget kali ya," katanya.

Menurut Kepala Sub Direktorat Keamanan dan Keselamatan Ditlantas PMJ, Kompol Herman RSH, penerapan sistem E-TLE portabel di tiga JLNT tersebut menggunakan kamera yang terpasang di mobil petugas Ditlantas.

"Kalau portable itu mobile, dibawa anggota di kendaraannya. Nanti kalau (mobil anggota Ditlantas) parkir, sudah, dia ngebaca sendiri," jelas Herman.

Baca juga: DPRD: Pemprov Harus Belajar dari Revitalisasi Monas

Penerapan E-TLE portabel dilakukan hanya sementara. Jika dinilai efektif, maka sistem tersebut akan dipermanenkan. Sistem E-TLE untuk pelanggar sepeda motor sendiri sudah diterapkan sejak Sabtu (1/2) dan efektif penindakan sejak Senin (3/2) kemarin.

Pesepeda motor yang melintasi JLNT dikenakan saksi melanggar marka jalan seperti yang termaktub dalam Pasal 287 Ayat (1) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum. Adapun denda maksimal bagi pelanggar adalah Rp500 ribu dan ancaman kurungan dua bulan. (OL-6)

BERITA TERKAIT