07 February 2020, 08:18 WIB

Kembalinya Harapan para Korban Bencana


Taufan Bustan/taufan@mediaindonesia.com | Nusantara

KOMITMEN dunia usaha membantu kebangkitan warga korban bencana terus berjalan di Tanah Air. Salah satunya di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang dirundung gempa dan tsunami pada 2018 lalu.

Adalah Sufiaty Sonrang, seorang pensiunan pegawai pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa menghabiskan yang ia miliki, termasuk sang suami, Suparman Hasan, yang tewas karena tertimpa pagar beton.

Setelah gempa, trauma membuatnya lari dan mengungsi ke Makassar, Sulawesi Selatan. Lima hari setelah itu, sepercik sinar datang kepadanya.

Ia dihubungi seorang staf Manulife Indonesia, salah satu perusahaan asuransi. Sufianty mendapat kabar bahwa proses pencairan dana klaimnya sudah bisa cair.

"Saya bisa menata kehidupan lebih cepat karena terbantu dana itu. Hanya dalam waktu lima hari, klaim asuransi senilai Rp600 juta bisa cair," ungkap Sufiaty.

Dengan dana itu, dia bisa menata kembali kehidupannya. "Saya dapat Rp600 juta, bebas membayar premi selama satu tahun dan tidak pernah dipersulit," jelasnya.

Adi G Yusuf juga punya cerita serupa. Pemilik restoran Dunia Baru itu nyaris bangkrut. Gempa membuat restorannya runtuh. Selain itu juga kedua orangtuanya, empat pegawai restoran, dan seorang pengunjung tewas tertimpa bangunan restoran.

Dua minggu setelah kejadian, klaim asuransinya cair. Ia mendapat dana Rp550 juta untuk membuka usaha lagi.

Bantu warga

Bencana di Palu dan Donggala membuat 3.700 warga kehilangan nyawa, 55 ribu bangunan hancur, dan kerugian materi mencapai Rp18,4 triliun. Perusahaan asuransi Manulife Indonesia yang membuka kantor di Palu ikut jadi korban.

"Kantor kami rusak, kendaraan perusahaan hancur dan dua agen meninggal dunia. Namun, perusahaan tetap bergerak cepat membantu nasabah sekaligus membantu para agen," ungkap Manajer Distrik Manulife Indonesia Palu, Seprina Fifian Mangitung.

Dari Jakarta, perusahaan juga mengirim pasokan bantuan, terutama untuk membantu nasabah. "Kami semua, staf kantor, dan agen-agen yang ada tetap bekerja mencari nasabah dan membantu memberikan bantuan, juga kepada masyarakat," ujar Fifian.

Seluruh agen mendapat bantuan, termasuk biaya untuk merenovasi rumah mereka. Dana puluhan juta rupiah juga diberikan untuk memperbaiki kendaraan mereka.

"Kami diminta memprioritaskan keluarga dan nasabah. Itu yang membuat kami semangat untuk bangkit sehingga di tengah kesusahan, kami tetap membantu nasabah dan masyarakat," ujar seorang staf di Kantor Manulife Palu, Rosalina Hariyanti.

Di wilayah bencana ini, Manulife juga memberlakukan kebijakan membebaskan pembayaran premi selama 1 tahun. Kepedulian ini membuat warga di Palu sangat terkesan.

Di Jakarta, Direktur and chief Marketing Manulife Indonesia, Novita Rumgangun, memastikan perusahaannya memahami kebutuhan dan solusi perencanaan keuangan keluarga, termasuk kebutuhan nasabah yang mengalami musibah bencana. "Kami tidak akan mempersulit pengajuan klaim. Sampai akhir 2019 lalu, kami telah membayar klaim Rp5,3 triliun. Tahun sebelumnya Rp5,5 triliun." (N-2)

BERITA TERKAIT