07 February 2020, 06:00 WIB

Gratieks, Ekosistem Pertanian Modern


Imam Mujahidin Dosen Ekologi Politik Unhas Makassar | Opini

NEGARA-NEGARA di dunia membutuhkan hasil produksi pangan Indonesia. Bagaimana tidak, seluruh produk pertanian kita tumbuh dengan subur dan memiliki hasil yang berkualitas nan memuaskan. Pertanyaannya, mampukah semua komponen dan praktisi pertanian kita menyuplai kebutuhan mereka?

Mengutip pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki kelebihan dari berbagai aspek teknis dan strategis. Ketimbang negara lain, negeri ini selalu disirami air hujan dan dihangati sinar Matahari setiap harinya. Karena itu, tanah kita subur. Alam kita masyhur. Air kita mancur.

Dengan demikian, tak ada kata lain selain memusatkan pemikiran kita pada kata maju, mandiri, dan modern. Tiga kata yang menjadi kunci bagi pembangunan ekspor pertanian Indonesia.

Terkait hal ini, Mentan meminta pengusaha dan eksportir untuk melipatgandakan lalu lintas ekspor mereka menjadi tiga kali lipat. Permintaan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang diyakini memiliki dampak pada roda ekonomi nasional.

Melalui gerakan ini, akan ada jutaan orang yang bekerja di sektor pertanian. Namun, apakah implementasi program ini bisa direalisasikan dengan cepat? Jawabannya bisa! Pertama, kegiatan produksi on farm dengan kegiatan off farm perlu dihubungkan sebagai dasar menuju ekosistem pertanian modern.

Sistem ini dengan sendirinya akan mengubah kegiatan pertanian individu menjadi kegiatan pertanian kolektif dan korporasi. Teknologi, digitalisasi, aplikasi, platform, dan inovasi, menjadi satu kesatuan dan bingkai konsep ekosistem pertanian modern.

Penghubungan on farm dan off farm diyakini mampu menaikkan nilai tambah produk pertanian untuk menemukan pasar yang bisa menyerapnya. Lebih dari itu, hubungan dan gerakan ini lahir dari keinginan Mentan Syahrul untuk melipatkan nilai tambah produk pertanian dalam mencapai kesejahteraan.

Apalagi hasrat Mentan dalam menggerakkan gerakan ini mendapat angin segar dari Kementerian Keuangan RI. Kemenkeu telah membangun kantor bersama ekspor (KBE) untuk memudahkan kepentingan pengekspor terkait segala macam informasi dan konsultasi ekspor.

Keberadaan KBE juga disebut sebagai wujud dan komitmen sejumlah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), seperti Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Pajak. Melalui kantor KBE, pembiayaan yang kerap menjadi kesulitan bagi pelaku ekspor UMKM sektor pertanian dapat dipecahkan secara bersama.

Tren kenaikan ekspor

Di sisi lain, keseriusan Kementan menggenjot gerakan ini telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Ini terlihat dari catatan BPS pada periode Desember 2019. Hasil ekspor pertanian Indonesia meningkat 24,35% atau jika diangkakan ke dalam bentuk dolar, nilainya mencapai US$370 juta.

Tren kenaikan ekspor ini terlihat juga dari data yang dikeluarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan. Pusdatin menyampaikan selama lima tahun ini, Kementan berhasil menggenjot ekspor produk pertanian hingga 26,9%. Capaian itu tercatat dari volume ekspor tahun 2013 yang tadinya 33,5 juta ton menjadi 42,5 juta ton pada 2018.

Dari sisi nilai, selama periode 2014-2018, jumlah keseluruhan ekspor produk pertanian Indonesia mencapai Rp1.957,5 tirliun dengan akumulasi tambahan Rp352,58 triliun. Pada bagian ini, sektor perkebunan tercatat menjadi komoditas ekspor yang cukup tinggi. Sektor ini menjadi andalan ekspor Indonesia seiring meningkatnya konsumsi dan perubahan gaya hidup masyarakat global.

Beberapa komoditas yang menunjukkan kontribusi itu, antara lain kelapa sawit, kakao, karet, dan kopi. Selanjutnya, ada juga komoditas peternakan, khususnya perunggasan dan produk hortikultura, seperti sayur dan buah. Secara umum, kontribusi sektor pertanian dalam ekspor nonmigas mengalami peningkatan.

Pada 2018, kontribusi ekspor sektor pertanian mencapai 2,11% dari total ekspor nonmigas senilai kurang lebih Rp500 triliun. Namun, pada 2019, angkanya meningkat menjadi 2,34% atau setara Rp550 triliun.

Jika Gratieks dapat berkontribusi penuh pada 2024, potensi ekspor kita diperkirakan mencapai Rp 1,800 triliun. Angka ini sama dengan atau equal 7,5% kontribusi sektor pertanian terhadap total ekspor nonmigas.

Sebagai informasi, Gratieks merupakan gerakan yang digagas Mentan Syahrul yang dalam implementasinya telah melibatkan banyak stakeholders. Gerakan ini memiliki tujuan utama, yakni menyatukan kekuatan pemegang kepentingan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Gerakan ini diharapkan mampu bekerja dengan cara yang tidak biasa karena sudah memanfaatkan teknologi, inovasi, IT, digitalisasi, riset, jejaring, dan kerja sama yang kuat.

Dengan begitu, akses informasi terkait potensi komoditas ekspor di setiap daerah secara tidak langsung terbuka lebar. Akses inilah yang diharapkan bisa mendulang ekspor melalui aplikasi peta potensi ekspor dan Indonesia Maps of Agriculture Commodities Expor (IMACE).

Adapun potensi ekspor kita pada 2018 meliputi palm oil, karet alam, kopi, biji kakao, lada, jambu biji, mangga, manggis, pisang, nanas, buah-buahan, dan hewan ternak mencapai total transaksi sebesar US$17,5 miliar, sedangkan kemampuan kita saat ini hanya US$10,4 miliar. Hal ini disebabkan slot yang tersedia tidak mampu memenuhi negara tujuan, yakni USA, Belanda, Malaysia, Jepang, Rusia, Australia, Jerman, Kanada, Singapura, dan Tiongkok.

Sektor kunci

Namun, untuk gap 2009 antara potensi ekspor dan realisasi ekpor untuk 12 komoditas, naik menjadi lebih US$10 miliar. Potensi ini tidak termasuk puluhan komoditas lain dan puluhan negara tujuan ekspor yang lain walaupun kita juga harus ingat bahwa semua negara yang ada di dunia ini sedang berusaha untuk meningkatkan jumlah ekspor, lalu menekan jumlah impor. Atau paling tidak, semua negara menjaga keseimbangan neraca perdagangannya masing-masing.

Sementara itu, untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan ini, negara-negara, termasuk Indonesia, harus melakukan dua hal penting. Pertama ialah meningkatkan daya saing setiap komoditas. Kedua, melakukan lobi dan diplomasi multilateral dengan negara di dunia.

Akan tetapi, ingat, langkah penguatan daya saing selalu berkaitan dengan karakteristik pasar. Pasar secara bebas memberikan kriteria untuk komoditas yang bisa bersaing pada pasar bebas. Komoditas yang memiliki daya saing tinggi dengan sendirinya akan diserap oleh pasar. Komponen daya saing termasuk di dalamnya ialah harga.

Sementara itu, pada posisi diplomasi perdagangan, baik yang dilakukan secara bilateral maupun multilateral, dimaksudkan untuk membangun bargaining pasar dengan melakukan intervensi dan melibatkan kapasitas diplomasi sebuah negara.

Di masa yang akan datang, keunggulan sebuah negara akan ditentukan oleh seberapa besar kemampuan negara dalam merebut dan menguasai pasar. Sektor pertanian menjadi sektor kunci yang paling strategis untuk melakukan penetrasi pasar karena pertanian menghasilkan komoditas kebutuhan pangan. Semakin banyak penghuni bumi, semakin besar kebutuhan terhadap produk-produk pertanian.

Dengan asumsi itu, dapat dimengerti mengapa Kementan RI mencanangkan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Mengapa disebut sebagai Gerakan, karena harus mengubah pola pikir, kebiaasaan, dan kultur masyarakat, khususnya petani, dalam membangun orientasi tentang pertanian.

Dalam konteks ini, pertanian tidak sekadar memproduksi, tapi mentransformasi on farm menjadi off farm. Sebuah perspektif usaha personal menjadi usaha kolektif bersifat korporasi dan kolaboratif, yang memiliki interkoneksitas dari hulu hingga hilir. Gerakan ini bisa disebut sebagai gerakan membangun ekosistem pertanian modern.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kita mampu menyuplai kebutuhan masyarakat dunia. Apakah kita mampu menyatukan kekuatan untuk kepentingan bangsa dan negara. Jawabannya tentu saja mampu. Sebab, kita berada dalam posisi maju dan mandiri. Untuk itu, mari kita bangun ekosistem pertanian yang modern.

BERITA TERKAIT