06 February 2020, 15:27 WIB

Jokowi Soroti Karhutla 2019 Meningkat


Dhika kusuma winata | Humaniora

PRESIDEN Joko Widodo menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang pada tahun lalu menunjukkan tren peningkatan. Ia pun kembali mewanti-wanti seluruh kementerian serta lembaga terkait, TNI, dan Polri, serta pemerintah daerah agar intensif melakukan pencegahan dan sedini mungkin melakukan deteksi.

Hal itu ditekankan Presiden dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2020, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/2).

"2015 itu betul-betul sebuah kebakaran besar. Saat itu 2,5 juta hektare lahan terbakar baik lahan gambut maupun hutan. Baru 2017 turun menjadi terkecil 150 ribu hektare. Tapi 2018 naik lagi 590 ribu hektare. Lalu 2019 naik lagi jadi 1,5 juta hektare. Ini ada apa lagi? Apa kurang yang dicopot? Apa kurang persiapan? Kita tidak ingin seperti kebakaran di Rusia mencapai 10 juta hektare," tutur Jokowi.

Jokowi menekankan jajaran terkait untuk lebih intensif dalam melakukan upaya pencegahan. Antara lain penataan ekosistem gambut dalam kawasan hidrologi gambut (KHG) oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) yang harus terus dilakukan.

"Kemudian carikan solusi yang lebih permanen untuk upaya pembakaran hutan dan lahan yang sengaja untuk motif ekonomi karena, laporan yang saya terima, 99% kebakaran hutan dan lahan terjadi karena ulah manusia yang disengaja untuk motif ekonomi," ujar Presiden.

Jokowi menginstruksikan titik api sekecil apapun di suatu wilayah untuk sesegera mungkin dipadamkan sebelum terlanjur membesar. Menurutnya, pemerintah sebenarnya memiliki infrastruktur dan instrumen hingga ke tingkat bawah untuk menangani hal tersebut.

"Kita punya Babinsa, Babinkamtibmas, beri tahu mereka. Gubernur, bupati, wali kota, ada kepala desa, beri tahu mereka. Instrumen dan infrastruktur kita ada. Sehingga sekali lagi kalau ada api sekecil apapun segera padamkan, jangan sampai meluas dan sulit diselesaikan," ucapnya.

"Jangan sampai (kebakaran) meluas dan menggunakan air yang berjuta-juta ton dan tidak menyelesaikan. Negara besar pun kesulitan kalau sudah ada yang namanya api, di Amerika, Australia, kalau sudah membesar gitu sudah nggak mungkin, sudah kewalahan," tukasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT